As Your Wish [Chapter 1]

Gambar]

Title       : As Your Wish

Author    : starlight91

Cast       :

– Lee Howon

– Choi Naru

– Nam Woohyun

“Aku rasa, aku tidak akan pernah mencintaimu.”
“Siapa peduli? yang terpenting saat ini adalah kita tetap menikah.”
“Ya! Choi Naru! Kau ini wanita macam apa?!? Apa kau tidak malu meminta-minta seperti itu pada seorang pria???”
“Ya Lee Howon, aku tidak tuli. Kau tidak perlu berteriak seperti itu. ” tanggap gadis itu dengan santai.
Lee Howon sedang berada di ruang kerjanya bersama seorang gadis bernama Choi Naru. Mereka sedang membicarakan acara pernikahan yang rencananya akan berlangsung sebentar lagi.
“Dengarkan aku, carilah pria yang baik, yang bisa menjagamu.” Howon duduk sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Cukup melelahkan baginya berbicara dengan gadis keras kepala di hadapannya ini.
“Aku rasa daripada harus repot mencari pria seperti itu, bukankah lebih mudah jika kau belajar menjadi pria yang baik untukku?” Naru tetap duduk santai diseberang meja kerja Howon, memutar-mutar kursi yang ia duduki ke kanan dan ke kiri.
“Keluarlah … Aku selalu lelah jika bertemu denganmu” usir Howon dengan halus, dia memejamkan matanya, sesekali menarik nafas dalam-dalam.
“Kau itu bukan selalu lelah, tapi selalu kalah dihadapanku.” ejek Naru. Dia berdiri dari kursinya.
“Aku akan kembali setelah rapat.” tambah Naru dan beranjak meninggalkan Howon menuju pintu keluar.
“Tidak perlu, aku akan pulang cepat hari ini.” tolak Howon.
“Baiklah, kalau begitu sampai bertemu di apartemenmu.”
“Ya! Sudah kubilang jangan datang lagi!” Howon kesal, hendak berdiri dari kursinya. Namun Naru sudah pergi.
“Aiiissh, gadis itu …” Howon mengacak-acak rambutnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 22.30. Naru berada di ruang kerjanya. Dia baru saja menyelesaikan rapat dan sedang membereskan berkas-berkas diatas meja hendak pulang, namun terhenti ketika ia melihat fotonya bersama Howon tiba-tiba terjatuh.
“Perasaan tidak ada sesuatu menyenggolnya.” Naru mengambil bingkai foto itu, menatapnya sejenak,
“Lee Howon babo” dia tersenyum, mengusap wajah Howon dengan jari-jarinya lalu meletakkan kembali foto itu di sudut kiri meja kerjanya.
“Apa dia masih di ruang kerjanya?” Naru langsung mengambil tas dan blazernya untuk menemui Howon. Mereka memang bekerja di perusahaan yang sama. Jadi tidak heran jika Naru bisa setiap saat mengganggu Howon di ruang kerjanya.

Naru membuka pintu ruangan Howon tanpa permisi, gelap. Tapi ia merasa masih ada orang disana. Naru meraba-raba dinding dekat pintu sampai akhirnya menemukan saklar lampu. Clek! Seketika ruangan itu menjadi terang.
Howon yang memang masih berada disana tentu saja kaget, dia duduk diatas meja dan menghadap kearah jendela kaca yang memenuhi satu bagian dinding di ruangannya, sehingga tidak sadar dengan kedatangan Naru.
“Ya! Apa yang kau lakukan?!? Tidak bisakah kau masuk dengan sopan? Setidaknya kau harus ketuk pintu dulu!” Hoya membalikkan badannya.
“Lalu, jika aku mengetuk pintu dulu, apa yang akan kaulakukan? Bersembunyi dibawah meja bersama gadis itu?” tunjuk Naru pada seorang gadis yang sedang sibuk mengancingkan baju kemejanya.

Howon sendiri terlihat sedikit berantakan. Dia tidak memakai jasnya dan beberapa kancing kemejanya terbuka memperlihatkan dadanya yang bidang.
“Wow, sepertinya aku sudah mengganggu acaramu.” Naru berjalan mendekati mereka. Menatap gadis yang berdiri disamping Howon. Gadis itu berusaha menyembunyikan wajahnya dengan terus menunduk. Sedangkan  Howon masih duduk diatas meja dengan santainya.
“Siapa dia? Sepertinya dia bukan pegawai kita.” Naru menyilangkan tangan didadanya, mencoba menginvestigasi.
“Dia memang bukan pegawai disini. Kenalkan dia Lee Minhwa, dia kekasihku.” ujar Howon, dia berdiri sambil menggenggam tangan Minhwa. Howon tahu, kekasihnya itu pasti malu dan ketakutan saat ini.
Naru menjulurkan tangannya pada Minhwa,
“Aku Choi Naru, calon istri Lee Howon.” Naru berucap dengan memberikan senyuman terbaik. Namun bukannya uluran tangan Minhwa yang ia terima, melainkan justru tangkisan dari tangan Howon.
“Ya! Kau cukup katakan namamu saja. Tidak perlu menambahi hal bodoh seperti itu.” Howon kembali menatap kekasihnya yang semakin menunduk. Terlihat jika matanya mulai berkaca-kaca.
“Bukankah yang aku katakan itu benar? Aku Choi Naru, calon istrimu.”
“Cukup Naru! Hentikan sebelum aku benar-benar marah padamu.” Howon mencoba menahan emosinya.
“Tapi dia juga perlu tahu kan?”
“Dia sudah tahu sebelumnya. Puas?”
“Well,setidaknya jika dia sudah tahu, dia tidak akan mengganggu kehidupan kita selanjutnya. Bersenang-senanglah Nona Minhwa sebelum aku mengambil Lee Howon sepenuhnya.” Naru sepertinya mencoba membuat Minhwa terpojok. Dia tahu jika Howon akan marah padanya setelah ini. Tapi dia tidak peduli.
“Aku sedang tidak ingin ribut denganmu. Pulanglah. Aku akan mengantar Minhwa dulu.” Howon mengambil jasnya sambil terus menggenggam tangan Minhwa.

“Aku ikut!” sergah Naru ketika melihat Howon dan Minhwa beranjak meninggalkannya.
Howon menatap tajam pada Naru,
“Selangkah saja kau mengikuti kami, kuhancurkan perusahaan ini besok!”
Naru menghela nafas, dia memang tidak bisa berkutik jika Howon sudah menyeret masalah perusahaan. Ya, perusahaan itu adalah milik ayah Naru, sedangkan ayah Lee Howon adalah investor terbesar disana. Sehingga tidak heran jika Naru dan Howon memiliki posisi yang sama, namun kekuasaan Howon lebih dominan.
“Hancurkan saja sana, dan aku akan menghantui hidupmu selamanya.” gumam Naru, dia hanya bisa diam melihat bayangan Howon yang semakin menghilang di balik pintu.

“Menikahlah dengannya.” ucap Minhwa memecah keheningan didalam mobil. Howon dan Minhwa masih dalam perjalanan menuju rumah Minhwa.
“Apa yang kaukatakan, Minhwa?” ucap lirih Howon.
“Dia lebih pantas denganmu dibanding aku.” lanjut Minhwa sambil menatap keluar jendela, tidak berani melihat Howon barang sedikitpun.
“Kau ini, jangan dengarkan apa yang dia katakan. Dia itu kadang kekanak-kanakan. Mengucapkan segala sesuatu tanpa dipikir terlebih dahulu.”
“Tapi apa yang ia katakan benar, bagaimanapun dia memang calon istrimu.”
Howon lalu menepikan mobilnya. Dia menarik lembut tangan Minhwa, menggenggamnya erat. Minhwa memalingkan wajahnya, menatap Howon dalam.
“Dengarkan aku, Minhwa. Aku hanya ingin menikah dengan wanita yang aku cintai. Dan itu kau.”
“Kau yakin tidak akan berubah kan? Kau janji akan menikahiku kan?” tanya Minhwa mencari kepastian.
“Percayalah … ”

Gambar

Sedetik kemudian Howon mengecup lembut dahi Minhwa, lalu turun ke bibirnya. Mengecup penuh perasaan, penuh cinta, bukan nafsu. Meyakinkan kekasihnya jika yang dia katakan benar-benar tulus.
“Sudah cukup, Howon-ah.” Minhwa mendorong lembut Howon, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.
Howon tersenyum, mencubit pipi Minhwa gemas,
“Sekarang kau percaya kan?”
Minhwa mengangkat wajahnya, menatap mata Howon,
“Iya, aku percaya …” Minhwa tersenyum.
“Gadis baik … ” Howon mengusap rambut Minhwa, lalu memposisikan kembali duduknya dibelakang kemudi, meneruskan perjalanan mereka ke rumah Minhwa.

Naru melihat layar handphonenya,
“Sudah jam 02.00. Kemana dia? Kenapa belum pulang?” lalu memasukkan handphone-nya kedalam saku blazer. Kembali bersandar pada dinding dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, menghangatkan tangannya yang terasa mulai membeku.
Tap tap tap .. Terdengar suara langkah, dan ternyata seseorang yang sedari tadi ia tunggu akhirnya datang.
“Ya! Kemana saja kau, Lee Howon! Apa kau tidak tahu aku kedinginan disini untuk menunggumu?!?” Naru menegakkan posisi berdirinya.
“Aku tidak menyuruhmu menunggu.” ucap Howon tanpa melihat Naru sedikitpun. Dia memasukkan password pintu apartemennya, terbuka.
“Masuklah, jangan sampai kau sakit.” Howon masuk kedalam apartemennya. Naru berusaha ikut masuk kesana namun terlambat. Pintunya sudah terkunci otomatis.
“Ya! Lee Howon!!!” Naru mencoba menggendor pintu itu berkali-kali. Percuma.
“Haaahh, dasar babo.” Naru menghembuskan nafasnya berat.
Dengan lunglainya Naru berjalan masuk kedalam apartemennya yang tepat berada disamping apartemen Howon.

“Howon-ah, ada yang perlu aku bicarakan.” ucap Naru yang bertemu Howon di parkir area apartemen mereka.
“Aku ada rapat hari ini, nanti saja.” ucap ketus Howon sambil masuk kedalam mobilnya, lalu melajukan mobilnya tanpa memperdulikan Naru yang masih terpaku, menatap mobil Howon sampai benar-benar menghilang. Naru tahu Howon masih marah padanya.
“Hati-hati di jalan, Howon-ah … ” ucap lirih Naru. Kemudian Naru pun masuk kedalam mobilnya, melaju bukan kearah kantor.

Howon yang baru saja menyelesaikan rapatnya menyempatkan diri untuk datang ke ruangan Naru. Ada perasaan bersalah karena telah mengacuhkannya tadi pagi. Sekretaris yang posisi tempat kerjanya berada didepan ruang kerja Naru langsung berdiri memberi hormat ketika melihat kedatangan Howon. Belum sempat Howon masuk ke ruangan Naru, sekretaris itu memberi tahu jika Naru belum datang ke kantor.
“Dia belum datang?” heran Howon.
“Iya Tuan, Nona Choi belum tiba di kantor.”
“Kemana dia?”
“Maaf Tuan, saya tidak tahu. Nona juga tidak memberi kabar.”
“Baiklah, kau boleh kembali bekerja.” Howon pun bergegas kembali ke ruangannya. Dilonggarkannya sedikit ikatan dasi di lehernya yang terasa menyekik. Dia duduk di kursi kerja sambil mengutak-atik layar handphone, mencari no.kontak Naru.  Mencoba menghubunginya berkali-kali. Namun tetap tidak ada jawaban.
“Kemana dia?” gumamnya khawatir.

“Ibu, aku rasa aku tidak bisa menikah dengan Lee Howon” ucap Naru dengan hati-hati. Ia takut ucapannya akan membuat ibunya kaget.
“Ya, ada apa denganmu? Apa pekerjaan di kantor membuatmu stress akhir-akhir ini?” Nyonya Choi mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ibu, aku serius. Mohon dengarkan aku dulu.”

Seketika suasana di ruang keluarga rumah Tuan Choi pun berubah hening. Pagi ini Naru memutuskan pergi ke rumah keluarganya. Untuk menemui orang tuanya, namun sayang ayahnya sudah pergi ke kantor pagi-pagi sekali, dan hanya ada ibunya.
“Ibu, maafkan aku.” Naru menunduk, meremas-remas sendiri jemarinya.
Nyonya Choi yang sedang mengupas apel pun akhirnya menghentikan kegiatannya. Mencoba mendengarkan apa yang akan dikatakan putrinya.
“Kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu ?” tanya Nyonya Choi dengan penuh kasih sayang. Dia tahu putrinya tidak akan mengatakan hal seperti itu tanpa alasan.
“Aku merasa ini terlalu dipaksakan.” Naru memberanikan diri menatap ibunya.
“Bukankah kau dan Howon sudah dekat sejak dulu? Lalu apa masalahnya?”
“Kau benar, Bu. Tapi kami dekat hanya sebatas sahabat. Kalian selalu mengirimku ke tempat yang sama dengan Lee Howon. Mulai dari sekolah, tempat les piano, tempat latihan taekwondo, kampus, sampai tempat kerja pun sama. Bahkan aku harus tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya.”
“Dengarkan Ibu, sayang … Kami semua melakukan itu agar kalian terbiasa hidup bersama. Bukankah kau tahu jika kalian memang akan dijodohkan sejak awal?”
“Aku tahu,Bu. Tapi apa kalian juga memikirkan perasaan kami?” Naru mencoba memberi pengertian pada ibunya.
“Apa kau tidak menyukai Lee Howon? Dia pria yang baik dan sopan. Ibu benar-benar ingin dia menjadi menantu Ibu.”
“Aku menyukainya,Bu. Bahkan jika aku mau, aku juga bisa mencintainya. Tapi …” Naru menghentikan perkataannya, dia menggigit bibir bawahnya untuk menghilangkan entah perasaan apa itu. Antara gugup, sedih dan putus asa.
“Tapi apa?” tanya Nyonya Choi tidak sabar.
“Tapi tidak dengan Howon padaku. Dia mungkin menyukaiku, dan tentu saja hanya sebatas teman, dan dia tidak akan pernah mencintaiku.”

 Gambar

“Kemana kau akhir-akhir ini?” Howon masuk kedalam ruangan Naru. Sudah beberapa hari ini Naru memang sengaja menghindar untuk bertemu dengannya.
“Aku pergi berlibur.”  jawab Naru sambil tetap fokus pada berkas-berkas yang ada dihadapannya.
“Bohong. Mana mungkin kau pergi berlibur tanpa mengajakku.” terdengar Howon tertawa disela ucapannya. Dia mengambil kursi, duduk didepan meja Naru.
“Kau membenciku sekarang. Jadi apa aku harus mengajakmu? Aku bahkan ragu jika kau masih menganggapku temanmu.”
“Hey, apa kau marah padaku?” Howon mengetuk-ngetuk meja, mencoba mencari perhatian Naru.
“Tidak. Aku hanya merasa akhir-akhir ini kau begitu sering bersikap dingin padaku, bahkan kau juga tidak ragu membentakku. Aku jadi merasa asing denganmu.” Naru menjawab tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya.
“Kau marah padaku. Aku tahu. Maafkan aku.” suara Howon terdengar berat. Naru akhirnya mengalah, dia menyimpan semua berkasnya dan mencoba menatap Howon yang kini sibuk memainkan dasinya.
“Lalu apa yang membuatmu seperti itu?”
“Aku hanya tidak suka mendengar celotehanmu tentang rencana pernikahan kita. Itu bukan sebuah lelucon, Naru.”
“Aku tidak pernah menganggap itu sebuah lelucon.” timpal Naru.
“Tapi kau tidak pernah serius jika kita membahas strategi pembatalan rencana itu. Apa jangan-jangan kau???” delik Howon, sengaja menggantungkan pertanyaannya.
Naru mengernyitkan dahinya,
“Jangan-jangan apa???” tanya Naru penasaran.
“Apa jangan-jangan kau justru ingin menikah denganku?” tanya Howon serius.
Bagaikan tersambar petir, Naru pun kaget setengah mati mendengar pertanyaan Howon.

“A aak akuu …” Naru tidak bisa berpikir jernih. Mana yang harus dia katakan, antara berkata jujur atau justru berusaha untuk tetap menutupinya.
“hahaha, lihatlah ekspresimu, Naru! Hahahaha” Howon menertawakan ekspresi Naru yang mungkin sangat lucu baginya.
“Howon-ah …”
“Aku hanya becanda. Aku sudah tahu jawabannya. Mana mungkin kau mau menikah denganku kan?” Howon tersenyum sambil beranjak dari kursinya.
“Howon-ah, aku ….” terbesit niat Naru untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi entah mengapa bayangan Minhwa tiba-tiba datang dan membuatnya ragu.
“Maafkan aku, Naru. Kau pasti kaget dengan pertanyaanku tadi sampai-sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kembalilah bekerja. Aku akan kembali ke ruanganku. Jika ada sesuatu hubungi aku.” ucap Howon sambil berlalu meninggalkan ruangan.

“Aku sudah mendengar cerita dari ibumu.”
Naru saat ini sedang makan siang disela-sela waktu istirahatnya bersama Tuan Choi di salah satu restoran elite, hanya ada mereka disana. Tidak ada pengunjung lain.
“Maafkan aku, Appa …” Naru tahu apa yang akan appanya bahas.
“Untuk apa kau meminta maaf? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” ucap Tuan Choi santai sambil melahap makanannya.
“Tapi Appa …” berbanding terbalik dengan Naru, dia justru mendadak tidak bisa menikmati makan siangnya.
“Jangan sekali-kali berani membatalkan rencana pernikahan kalian. Kau tahu kan Appamu ini sudah lama berteman dengan Tuan Lee. Howon orang yang tepat untukmu.”
“Bukankah kalian ingin menikahkan kami karena urusan bisnis? Bukan karena pertemanan kalian.”
“Apapun itu, kau hanya perlu menurutiku. Cukup itu saja.”
“Aku tidak mau. Appa ingin aku menikah dengan Lee Howon agar Tuan Lee tidak membatalkan investasinya kan?” Naru meletakkan sendok yang masih dia pegang keatas meja.
“Makan makananmu, tidak baik jika kau tidak menghabiskannya.”

Tuan Choi memang orang yang santai, terkesan tidak serius, namun jika sekalinya murka dia tidak akan segan-segan membunuh orang yang membuatnya marah.
“Maaf Appa, tapi untuk sekali ini aku tidak bisa menurutimu.” Naru hendak beranjak meninggalkan Appanya.
“Batal menikah dengan Lee Howon, artinya kau keluar dari daftar keluargaku.”
Naru menghentikan niatnya, ia kembali duduk untuk meminta penjelasan.

“Apa maksud Appa?”
“Seperti yang kau dengar barusan, kau akan kukeluarkan dari daftar keluargaku. Itu artinya, kau juga akan kehilangan semua fasilitas yang aku berikan selama ini. Termasuk pekerjaanmu dan tentu saja semua warisanku tidak akan kuberikan sepersen pun padamu.”

“Apa kau tega melakukan itu pada putrimu satu-satunya? Apa kehilangan perusahaan lebih menyedihkan dibanding kehilangan putri kandungmu sendiri?” Naru mencoba menahan emosinya. Ada rasa sakit yang terasa ditenggorokannya.

“Tidak sulit bagiku untuk melakukan itu.” jawab Tuan Choi tanpa memperdulikan perasaan Naru.
“Appa ….”

“Howon-ah, apa kau sedang sibuk?” intip Naru dari balik pintu ruang kerja Howon.
“Masuklah …” Howon terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya di depan komputer.
“Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Tunggu sebentar, akan ku save dulu pekerjaanku.”

Naru merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang yang ada di ruangan itu.
“Ini masih pagi, kenapa kau terlihat sudah lusuh?” Howon menghampiri Naru.
“Apa yang harus kita lakukan?” Naru memijat-mijat kepalanya sendiri, terlalu berat baginya memikirkan masalah ini sendiri, untuk itulah dia datang kemari, mencoba mencari solusi bersama Howon.
“Apa maksudmu?” Howon mengurut dahi Naru, mencoba membantuny.
“Pernikahan kita.” Naru mengubah posisinya, duduk tegak dan menghadap lurus kearah Howon.
Howon yang tahu apa yang akan dibicarakan, menjauhkan tangannya dari dahi Naru, menggeser posisi duduknya, sedikit menjaga jarak.
“Kau ini. Mengapa langsung mengubah raut wajahmu seperti itu? Seakan-akan aku akan memaksamu menikahiku saat ini juga.” cerocos Naru.
“Baiklah, apa yang akan kaubicarakan?”
Howon memang akan berubah menjadi serius jika membicarakan hal tersebut.
“Kemarin Appa bilang padaku, jika aku berani membatalkan pernikahan ini, maka aku akan ditendang dari keluarga Choi.”
“Lalu?”
“Itu artinya, kau yang harus lebih aktif menolak pernikahan ini. Kau putra kesayangan Tuan Lee. Dia tidak akan mungkin mengusirmu, kan?”
“Dan kau tidak akan turun tangan sama sekali? Kita harus bekerja sama agar rencana itu benar-benar gagal total.”
“Mau bagaimana lagi. Sebenarnya aku punya banyak ide untuk membatalkan rencana itu, tapi aku tidak mau hidup melarat karena diusir Appaku. Bagaimanapun aku juga harus memikirkan kehidupanku selanjutnya.”

“Ayolah, katakan apa idemu.” desak Howon

“Tidak mau! Emmm, kecuali …” Naru sengaja menggantungkan kalimatnya. Memasang ekspresi wajah seolah sedang berpikir keras.
“Kecuali apa? Cepat katakan!” tanya Howon semangat.
“Kecuali kau bisa menjamin kehidupanku jika Appa benar-benar mengusirku. Bagaimana?” tawar Naru.

“Apa bedanya dengan aku menikahimu dan bertanggungjawab atas hidupmu??? Aku tidak mau.” Howon menolak begitu saja tawaran Naru.
“Ya Lee Howon, itu jelas saja berbeda! Kau tetap bisa menikahi Minhwa, dan itu otomatis membuat seluruh cinta, jiwa dan ragamu menjadi milik Minhwa kan? Aku tidak perlu semua itu. Aku hanya butuh materi untuk bertahan hidup. Kau hanya perlu membagi pendapatanmu denganku. Itu saja”
“….” Howon tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Ahhh baiklah, sepertinya kau tidak setuju. Lupakan tawaranku tadi. Akan kupikirkan lagi bagaimana caranya agar rencana pernikahan kita batal. Kau juga, cari solusi yang terbaik. Jangan hanya sibuk berpacaran dengan Minhwa.” Naru beranjak meninggalkan Howon yang masih tertegun.

Gambar

-tbc-

Advertisements

6 thoughts on “As Your Wish [Chapter 1]

  1. Seru nih … Ky nya naru cinta mati ma howon … Sampe rela ” ϑî’ buang ” appa nya .. Aish sayangnya howon malah ga suka n terkesan ga membantu naru… Ky nya ìni ff bercerita ” perjuangan n penderitaan ” naru ya ? Penasaran ….

  2. Kasihan naru… Cintanya bertepuk sebelah tangan … Sepertinya ìni cerità mengenai perjuangan naru dalam hidup dan cinta deh … Itu appa nya naru kejam yah … Mana ho woon jg ga mau bantu lg … ( itu howon sebenarnya maunya apa sih? Kawin ma naru ga mau … Tp jg ga berusaha membatalkan pernikahan itù … Aneh … ) kasihan naru … Penasaran nihhh …next….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s