Wedding

Title : Wedding

Author : Aster Kim / imwhitesmile

Cast : Kim Hye Jin, Lee Sung Min, Cho Ha Na

Genre : Sad romance

Disclaimer : This story and poster 100% is mine don’t be plagiat! NO COPY PASTE.. ^^

**

Hye Jin beberapa kali melirik jam tangannya, jam sudah menunjukan pukul 12 siang dan gelas di hadapan Hye Jin pun sudah mengering.

“Kemana dia?” desah Hye Jin.

Belum sempat Hye Jin mendorong kursi untuk beranjak pergi, pintu kafe terbuka dan seseorang yang Hye Jin tunggu pun muncul dengan tergesa lalu menghampiri Hye Jin.

“Mian aku terlambat.” Ucapnya dengan tersengal.

“2 Jam aku menunggu.” Hye Jin melirik jam dinding di kafe itu, lalu bergegas pergi dari kafe.

“Hye Jin-a..” Sung Min nama pria itu, ia menarik lengan kekasihnya dan memohon untuk tidak marah.

“Pekerjaan apa lagi yang membuatmu harus terlambat sampai 2 jam?” tegas Hye Jin.

“Aku salah, aku minta maaf. Kita bicarakan ini di mobil, tidak enak jika di lihat orang.” Sahut Sung Min sambil menggandeng tangan Hye Jin menuju mobilnya yang terparkir di depan.

Hye Jin duduk dengan tatapan kesal, pandangannya terarah pada pemandangan di luar. Sementara Sung Min ia berkali-kali melirik Hye Jin, ia mencoba membaca situasi untuk menjelaskan semuanya pada Hye Jin.

“Jadi? Apa yang harus aku dengar darimu?” tanya Hye Jin memulai percakapan.

“Aku.. iya aku memang ada pekerjaan tadi. Kau tahu sendiri kan pekerjaanku seperti apa? Aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaanku saat itu juga.” Jelas Sung Min.

“Lalu? Apa kau tidak punya ponsel? Atau nomorku tidak ada di ponselmu?”

“Ponselku tadi mati dan aku bingung harus bagaimana.”

“Apakah ingatanmu terlalu buruk untuk mengingat nomor ponsel kekasihmu?” cibir Hye Jin.

Sung Min membenarkan posisi duduknya, ia menghadap Hye Jin menatapnya dan menggenggam kedua tangan kekasihnya. “Aku benar-benar gugup chagi.. Aku takut kau marah, makanya aku berusaha untuk menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin lalu menyusulmu.” Ujar Sung Min.

Hye Jin melepas genggaman Sung Min, “Kau tahu? Hubungan kita sudah lebih dari kekasih, kita sudah bertunangan dan sebentar lagi kita akan menikah..! tidak bisakah kau menunjukan perhatianmu untuk pernikahan kita??” seru Hye Jin.

“Chagi, aku mengerti.. Aku juga sangat menantikan pernikahan ini tapi pekerjaanku..”

“Kalau begitu menikahlah dengan pekerjaanmu itu!” Hye Jin membuka pintu mobil dan menutup pintu mobil dengan cukup keras.

“Hye Jin-a!” panggil Sung Min, Sung Min mencoba mengejar taksi yang membawa Hye Jin pergi namun sia-sia, kecepatannya berlari tak sebanding dengan kecepatan sebuah mesin mobil, ia pun menuju mobilnya lagi dan memilih untuk pulang.

00

“Uh? Kenapa kau ada disini?”

Hye Jin melempar tasnya dan menjatuhkan tubuhnya di sebuah kursi empuk dengan desain minimalis.

“Ya~ wae?” Ha Na, sahabat Hye Jin menghampiri Hye Jin yang tengah memijit-mijit keningnya.

“Dia terlambat 2 jam.. LAGI.” Ujar Hye Jin dengan menekankan kata ‘lagi’ pada kalimat yang ia ucapkan tadi.

“Sung Min oppa?” tanya Ha Na.

“Siapa lagi…?”

“Mungkin memang dia sibuk dengan pekerjaannya.” Ujar Ha Na menenangkan sahabatnya.

“Atau mungkin memang dia berniat untuk menikahi pekerjaannya.” Tambah Hye Jin membuat Ha Na tertawa.

“Apa yang kau katakan? Menikahi pekerjaan? Dasar bodoh..” tawa Ha Na meledak seketika.

“Apa yang kau tertawakan? Tidak ada yang lucu Cho Ha Na.” Sergah Hye Jin.

“Oke oke..” Ha Na menutup mulutnya menahan tawa yang masih ingin ia ledakan di depan sahabatnya.

“Oh iya, aku ingin kau melihat desain gaun yang waktu itu.” Ujar Hye Jin.

“Kau ingin memakai gaun itu? Bukankah kau bilang ingin memakai yang biasa?” tanya Ha Na.

“Ayolah~ sahabatku ini kan perancang busana pengantin terbaik di Seoul jadi gampang saja kan membuat gaun seperti itu.”

“Tapi..”

“Jebal, aku ingin memakai gaun itu..” Hye Jin mengeluarkan jurus aegyo nya.

“Arraseo.” Ha Na tersenyum mengerti.

“Omo~ apa ini? Ini gaun terbaru?” Hye Jin membelalakan matanya saat melihat gaun setengah jadi yang sedang di proses.

“Itu desain terbaruku, aku ingin memakainya suatu saat nanti di pernikahanku.” Sahut Ha Na sambil terkekeh.

“Yeppeoda..” puji Hye Jin.

“Apakah untuk pengantin pria sudah jadi?” tanya Hye Jin.

Ha Na menggeleng, “Aku belum menemukan pria yang tepat makanya aku belum membuatnya. Tapi untuk desain gambarnya aku sudah punya gambarannya, ini.” Ha Na menyerahkan sketsa dengan gambar baju pengantin pria dan wanita, gaun untuk pengantin wanitanya benar-benar cantik. Dan untuk pengantin pria sangat elegan namun simple.

“Kalau begitu kau harus cepat-cepat mendapat pria itu. Sebelum ia menikah dengan gadis lain.” Bisik Hye Jin.

Ha Na tertawa, “Tentu.. aku kan tak ingin kalah darimu.” Ha Na menjulurkan lidahnya.

“Apa kau bilang? Kau ingin menang dariku? Tidak bisa..” Hye Jin menghampiri Ha Na dan berpura-pura memukulinya, tawa mereka pun meledak di ruangan itu.

“Ah..” Hye Jin meringis kesakitan ketika lehernya terasa sakit.

“Wae?” tanya Ha Na.

“Ani gwaenchana.” Sahut Hye Jin sambil menahan rasa nyeri di lehernya.

00

“Hye Jin menemuimu?”

Ha Na mengangguk, “Kau berbohong padanya.” Ujar Ha Na.

“Lalu apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya?”

“Oppa, ini sudah terlalu jauh.” Desah Ha Na.

“Maka dari itu berikan aku kepastian perasaanmu, jika kau memintaku untuk mengakhirinya maka saat ini juga aku akan mengakhirinya..!”

“Aku tidak bisa.” Ha Na mulai tertunduk, matanya memerah dan terasa panas.

Sung Min yang tak lain tunangan Hye Jin membelai rambut Ha Na, ia merangkul Ha Na layaknya ia merangkul kekasihnya. “Uljima.” Ujarnya pelan.

“Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak bisa mengkhianatinya.” Isak Ha Na.

“Ini salahku, bukan salahmu. Aku yang salah sudah mencintaimu Ha Na-ya.”

00

Beberapa bulan sudah waktu berlalu, persiapan demi persiapan pernikahan Hye Jin dan Sung Min pun hampir selesai, hanya tinggal menunggu gaun pengantin selesai di kerjakan.

“Ha Na-ya..”

“Oppa? Kau sudah datang?”

“Mana Hye Jin?” tanya Sung Min.

“Dia belum datang.” Sahut Ha Na.

Mereka berdua duduk di sebuah ruang khusus untuk calon pengantin yang ingin mencoba beberapa gaun pengantin.

“Aku dengar gaun yang di pesan Hye Jin masih dalam proses?” tanya Sung Min.

“Eo, mian..” sahut Ha Na.

“Gwaenchana..”

Beberapa detik mereka terdiam, Ha Na pun menoleh ke arah Sung Min. “Oppa,” panggilnya.

“Ne?”

“Apakah kau benar-benar serius ingin menikahi Hye Jin?” tanya Ha Na.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Oppa.. aku…”

“Aku datang..!” pintu terbuka dan masuklah Hye Jin sambil tersenyum lebar mendapat kekasihnya sudah datang lebih dulu dan tidak membuatnya menunggu seperti biasa.

“Kau sudah datang?” Sung Min tersenyum.

Hye Jin mengangguk, “Ha Na-ya apakah gaun itu masih lama? Undangan sudah di sebar, jika gaun itu tidak selesai bagaimana?”

“Pasti akan selesai tepat waktu, iya kan Ha Na?” Sung Min menoleh ke arah Ha Na yang berdiri di belakang mereka.

Ha Na mengangguk, “Kau tidak percaya dengan designer terkenal ini??”

“Aa~ mulai lagi.. kau ini…” Hye Jin menjewer telinga Ha Na sambil tertawa.

Sung Min memperhatikan dua gadis di hadapannya, pandangannya terhadap dua gadis itu sangat berbeda. Perbedaan itu sangat terasa ketika pandangan Ha Na dan Sung Min saling bertemu.

“Aku harus pergi sekarang, eomma akan mengomel jika aku terlambat sampai di rumah.” Ujar Hye Jin setelah selesai dengan urusan gaunnya.

“Perlu aku antar?” tawar Sung Min.

“Tidak usah, aku bawa mobil. Lagipula Ha Na sendirian dan ini sudah malam, dia tidak bawa kendaraan. Iya kan Ha Na?” Hye Jin melirik Ha Na yang tengah memberesi beberapa kain.

“Oh? Ya begitulah.” Sahutnya.

“Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa besok chagi.” Hye Jin mencium kening Sung Min lalu bergegas pergi.

“Dua bulan lagi kalian akan menikah.” Desah Ha Na.

Sung Min merangkul pinggang Ha Na dan membiarkan dagunya beristirahat di bahu Ha Na, “Bukankah aku sudah sering mengatakannya?”

Ha Na berbalik menatap Sung Min, “Lalu? Jika kau memutuskan hubungan itu bagaimana dengan Hye Jin?” tanyanya.

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Apakah aku masih belum terlambat?” Ha Na melirihkan suaranya.

“Apa?” tanya Sung Min.

“Nikahi aku.” Pinta Ha Na.

“Ha Na-ya??” Sung Min terkejut bukan main, selama ini ia yang terus meminta Ha Na mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungannya dengan Hye Jin namun selalu di tolak mentah-mentah, dan hari ini Ha Na dengan tegas meminta untuk di nikahi saat persiapan pernikahannya dengan Hye Jin hampir selesai.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu.” Ujar Ha Na sambil memeluk Sung Min.

Sung Min tak mampu lagi bicara, ia bingung, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

00

Hye Jin dan Sung Min nampak berjalan menuju galeri gaun pernikahan milik Ha Na, mereka tersenyum pada resepsionis yang selalu melayani tamu yang datang dengan senyum ramahnya.

“Ha Na..”

“Hye Jin? Sung Min oppa?”

“Bagaimana dengan gaunku?”

“Kau sudah bisa mencobanya.” Ha Na tersenyum.

Senyum Hye Jin mengembang, “Jinjja?”

Ha Na mengangguk lantas menyuruh karyawannya untuk membantu Hye Jin mencoba gaun tersebut.

“Bukankah kau bilang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya?” tanya Sung Min dengan setengah berbisik.

“Tidak, aku salah bicara.” Sahut Ha Na.

Tak lama Hye Jin keluar dengan balutan gaun putih dengan aksen mutiara di bagian perut dan bordiran bunga tepat di tengah dada.

“Bagaimana?” tanya Hye Jin.

Sung Min tersenyum, “Yeppeo.” Pujinya.

“Aku suka.. tapi Ha Na, kenapa jahitannya yang sebelah kanan masih belum sempurna?” tanya Hye Jin.

“Oh, nanti aku akan memperbaikinya.”

“Ha Na, aku ingin mencoba memakai gaun itu.” Hye Jin menunjuk gaun yang sebelumnya pernah di ceritakan oleh Ha Na kalau gaun itu desain khusus hanya untuk pernikahannya saja.

“Tapi..”

“Hanya sekali saja, boleh kan?” pinta Hye Jin.

Ha Na berpikir sejenak lalu menganggukan kepalanya, “Baiklah.”

“Apakah ini pasangannya?” Hye Jin tiba-tiba sudah berdiri di sebelah manequin yang memakai tuxedo putih.

Ha Na terkejut, “I-itu..”

“Benar ya? Kenapa kau menyembunyikannya? Ah~ chagi ayo kau juga harus mencobanya.” Ajak Hye Jin.

“Tapi aku..”

“Sudah, ayo cepat.” Hye Jin menarik tangan Sung Min.

Ha Na cemas dan panik, baju itu memang ia desain khusus memakai ukuran tubuh Sung Min.

“Hm.. tubuhku dan tubuhmu tidak jauh berbeda, hanya saja tubuhku sedikit berisi tapi cocok kan?” tanya Hye Jin ketika ia keluar dari ruang ganti dan sudah memakai gaun milik Ha Na.

Ha Na hanya mengangguk sambil tersenyum, sementara hatinya sudah panik dan cemas.

“Omo? Chagi?? Pas sekali di badanmu?? Tampan..” seru Hye Jin saat Sung Min keluar dengan tuxedo.

“Wah.. apakah kekasihmu seperti Sung Min oppa? Aku tidak sabar berkenalan dengan pacarmu.” Ledek Hye Jin.

Ha Na dan Sung Min saling menatap satu sama lain, perasaan mereka tak menentu saat itu.

00

“Jadi?? Kau akan menikahinya??” teriak Ha Na.

“Dulu aku memintamu untuk memutuskan semuanya tapi kau selalu menundanya, dan sekarang saat pernikahanku sudah di depan mata kau memintaku untuk meninggalkannya?? Kemana akal sehatmu Cho Ha Na!” seru Sung Min.

“Lalu? Bagaimana dengan kandunganku?” isak Ha Na.

“Tunggu aku, setelah menikah beberapa saat aku akan menceraikannya.” Ujar Sung Min.

“Menunggumu menceraikannya?? Sampai anak ini lahir dan orang-orang tahu seorang Cho Ha Na mengandung tanpa suami??” pekik Ha Na.

“Ini yang terbaik!”

“Yang terbaik untukmu, bukan untukku ataupun anak ini.” Ha Na menunjuk perutnya.

“Aku mohon jangan membuat kepalaku sakit, ini semua kesalahanmu Ha Na. Kenapa tidak dari dulu kau memutuskan hal ini??” Sung Min berdiri dan menyambar jas dan kunci mobilnya.

“Mau kemana??”

“Aku harus pulang.” Jawab Sung Min.

“Batalkan pernikahan itu, aku mohon.”

“Ha Na-ya.. mengertilah, pernikahan ini sudah di depan mata dan aku tidak bisa jika harus membatalkannya.” Seru Sung Min sambil mendorong tubuh Ha Na.

Ha Na terjatuh sambil menangis, “Tidak bisa? Apa yang tidak bisa ku lakukan? Pernikahan kalian akan batal.” Gumam Ha Na.

00

18 Juni 2012

Ha Na memeluk Hye Jin sambil meminta maaf, “Aku benar-benar minta maaf Hye Jin, aku tidak bisa menjaga gaun itu.” Isaknya.

Hye Jin menatap gaun pengantinnya yang berlumuran darah bau amis menyeruak dan perasaan mual dalam perut Hye Jin makin bergolak.

“Bagaimana ini? Lusa pernikahanmu, kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Ujar Ha Na.

“Bisa, ada yang bisa kita lakukan.”

“M-mwo?” tanya Ha Na.

“Serahkan gaun milikmu padaku.”

“H-Hye Jin-a apa yang kau bicarakan?” tanya Ha Na.

“Wae? Bukankah ini kecerobohanmu? Kau harus menggantinya.”

Ha Na mengerutkan dahinya, ini bukanlah Hye Jin sahabatnya. “Hye Jin-a..”

Hye Jin mengangkat sudut bibirnya, ia tertawa lepas. “Apa kau pikir aku bodoh?” serunya.

“Apa maksudmu?” tanya Ha Na.

“Aku yang harusnya bertanya apa maksudmu merebut tunanganku??” teriak Hye Jin membuat hati Ha Na mencelos.

“Hye Jin-a..”

“4 Tahun aku menjalin kasih, selama itu pula kah kalian mengkhianatiku?”

Ha Na tersentak, ia meneguk ludahnya dengan berat. “Hye Jin, aku..”

“Malam itu,” Hye Jin menerawang mengingat percakapan antara Ha Na dan Sung Min beberapa waktu lalu. “Malam itu aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian, apa kau tidak menyadarinya? Kau tidak menyadari aku sudah mengetahuinya? Aku tahu kau mencintai tunanganku, aku tahu kau mengandung anak dari tunanganku, aku tahu pengkhianatan kalian padaku, tapi aku mencoba untuk berpura-pura tak mendengar dan tak melihat apapun. Aku melihat kalian bercumbu, aku melihat kalian pergi bersama, dan aku mendengar kalimat-kalimat cinta yang menjijikan yang keluar dari bibir kalian, kau tahu betapa aku ingin merobek bibir kalian? Kau tahu betapa aku ingin menampar kalian? Dan kau tahu betapa aku ingin membakar gaun pengantinmu itu?” lanjut Hye Jin sambil menatap Ha Na yang sudah berdiri dengan tulang kaki yang bergetar.

“Apa, apa maksudmu?” tanya Ha Na.

“Kau benar-benar bodoh.” Ucap Hye Jin.

“Kalau begitu kau harus cepat-cepat mendapat pria itu. Sebelum ia menikah dengan gadis lain.”

“Ha Na, aku ingin mencoba memakai gaun itu.”

“Wah.. apakah kekasihmu seperti Sung Min oppa? Aku tidak sabar berkenalan dengan pacarmu.”

Tubuh Ha Na ambruk, ia terduduk lemas. Kalimat-kalimat itu masih terngiang jelas di telinganya, ia baru menyadarinya sekarang.

“Lusa aku akan menikah dengannya, lalu apa yang akan kau lakukan?”

Ha Na menggeleng, “Tidak, tidak bisa.” Ucapnya.

“Apapun yang akan kau lakukan tidak akan mengurungkan niatku untuk menikah dengannya, jadi urungkan semua niatmu untuk menghancurkan pernikahanku.” Peringat Hye Jin.

“Hye Jin-a..! jangan lakukan itu padaku, kau tidak mengasihaniku? Aku mengandung anaknya, dan aku tidak mau jika nanti anak ini lahir ia tidak memiliki ayah.” Seru Ha Na.

“Kasihan? Lalu apakah kalian memikirkan perasaanku?” Hye Jin menatap tajam Ha Na dengan air mata tertahan.

“Aku minta maaf Hye Jin, tapi aku mohon lepaskan Sung Min oppa untukku. Kami saling mencintai.” Isak Ha Na.

Hye Jin tertawa, butir air matanya nampak jatuh ketika matanya menyipit. “Sekarang kau memohon padaku untuk melepasnya?? Kau memohon pada wanita yang sudah bertunangan untuk melepas tunangannya dan merelakannya menikah denganmu?? Kau merebut tunangan sahabatmu lalu memohon pada sahabatmu untuk merelakan tunangannya pergi denganmu?? Dimana harga dirimu?? Kau wanita tak tahu diri, kau tidak punya harga diri sama sekali Cho Ha Na!”

“Iya kau benar! Aku memang wanita tak tahu diri dan sekarang aku memohon padamu sebagai seorang wanita yang tak punya harga diri! Aku memohon padamu untuk melepas tunanganmu untuk sahabatmu!!” teriak Ha Na.

“Wanita jalang! Brengsek!!” Hye Jin menampar pipi Ha Na hingga Ha Na jatuh tersungkur.

“Aku mohon Hye Jin, jangan biarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah.” Isak Ha Na lagi, ia menghampiri Hye Jin dengan sekuat tenaga dan memeluk kaki Hye Jin sambil memohon.

“Aku akan tetap menikah dengannya.” Jawab Hye Jin.

“Bagaimana dengan anak ini??”

Hye Jin tersenyum, “Apakah anak itu ada urusannya denganku?”

“Mwo?”

“Gugurkan saja kandunganmu, toh masih belum terlambat untuk menyembunyikan skandal ini.” Ujar Hye Jin.

“Apa yang kau katakan?” Ha Na berusaha berdiri.

“Gugurkan kandunganmu dan jangan biarkan orang lain mengetahuinya, bukankah kau khawatir dengan lahirnya anak itu tanpa sang ayah karirmu akan hancur? Gugurkan saja.” Sahut Hye Jin.

Plaak!!!

Hye Jin terkekeh sambil mengusap pipinya, satu tamparan bersarang di pipinya. “Wae?” tanyanya.

“Kau bilang aku wanita tak tahu diri? Kau bilang aku wanita tak punya harga diri? Aku pikir aku memang wanita seperti itu, aku wanita brengsek yang sudah merebut tunangan sahabatku. Tapi.. ternyata kau lebih kejam dariku, kau lebih brengsek dariku. Kau mengatakan pada seorang wanita yang tengah mengandung untuk mengugurkan bayi nya? Kau mengatakan pada seorang calon ibu untuk membunuh anaknya? Apakah kau bisa di sebut wanita baik-baik?? Apakah kau bisa di sebut calon istri dan calon ibu yang baik??” pekik Ha Na.

Hye Jin terdiam, air matanya tak bisa ia tahan lagi. Wajahnya basah oleh air mata yang sejak tadi ia tahan, kebencian yang selama ini ia pendam mulai meresap di dalam hatinya. Ia membenahi rambutnya lalu berteriak memanggil supirnya untuk masuk, “Bawa gaun dan tuxedo itu ke dalam mobil.” Perintahnya.

“Baik.”

“Andwe..!!!” cegah Ha Na.

“Cepat bawa gaun itu keluar sekarang!!” teriak Hye Jin.

Ha Na berusaha mengejar supir Hye Jin yang sudah membawa pergi gaun miliknya namun 2 bodyguard yang Hye Jin bawa langsung menghentikan aksi Ha Na.

“Sudah jelas ku katakan, aku akan tetap menikah dengannya apapun yang terjadi.” Ujar Hye Jin dengan tatapan dingin.

Ha Na hanya terisak saat Hye Jin melewatinya dengan angkuh dan dingin.

Hye Jin terduduk lemas di kursi mobilnya, kepalanya terasa sakit sekali. Ia menghela nafas berkali-kali mencoba mencari udara yang bisa ia hirup saat itu.

“Nona, kita pulang?” tanya supir Hye Jin.

“Tidak, bawa aku ke tempat Sung Min oppa.” Jawab Hye Jin.

“Ne.”

Mobil sedan hitam milik Hye Jin meluncur mulus di jalanan ibukota menuju sebuah rumah.

Hye Jin keluar dari mobilnya ketika mobil sudah berhenti tepat di depan rumah mewah bergaya klasik.

“Aigo, kau mengagetkanku. Baru saja aku ingin menemuimu di tempat Ha Na.” Sung Min terkejut ketika melihat Hye Jin masuk ke dalam rumahnya dengan dua bodyguard yang membawakan baju pengantin.

“Aku membawa bajunya, gaun yang aku pesan ada masalah jadi Ha Na memberikan kita baju pengantin yang ia desain waktu itu. Dia baik ya.” Ujar Hye Jin sambil tersenyum.

“Benarkah?” tanya Sung Min.

Hye Jin mengangguk, “Kita sudah pernah mencobanya jadi aku yakin ini akan menjadi baju pengantin sempurna di pernikahan kita nanti.” Sahut Hye Jin.

“Kau, baik-baik saja?” tiba-tiba Sung Min memperhatikan wajah Hye Jin yang sedikit pucat dan kedua matanya yang memerah.

“Ya aku baik-baik saja.” Jawab Hye Jin dengan senyum yang sedikit di paksakan.

Sung Min memeluk Hye Jin dan membelai rambutnya, “Kau membuatku khawatir.” Ucapnya.

“Ahh.. kau tahu tidak?” Hye Jin merenggangkan pelukan Sung Min dan mencoba mengalihkan pelukan Sung Min.

“Apa?” tanya Sung Min.

“Entah ini hanya kebetulan atau memang takdir, Ha Na membuat baju pengantin untuk pacarnya kelak dengan ukuran yang sama denganmu. Ini sungguh tidak bisa di percaya, ya kan?”

Sung Min tersentak, ia mengangguk pelan ketika mata Hye Jin menatapnya dengan binar yang berbeda.

“Kau mencintaiku?” tanya Hye Jin tiba-tiba.

“Apa yang kau katakan? Aku sangat mencintaimu Hye Jin-a..” sahut Sung Min.

Hye Jin memeluk Sung Min dan meletakan kepalanya di dada Sung Min, “Tidak ada wanita lain?” tanya Hye Jin.

“Apa yang kau katakan?”

“Apa kau tahu kalau Ha Na mencintaimu?” tanya Hye Jin.

“Hye Jin-a..”

“Apa kau tahu Ha Na ingin merebutmu dariku? Dia bilang mengandung anakmu, dia ingin aku melepasmu. Kau tahu itu?”

“Kim Hye Jin!” sentak Sung Min.

Hye Jin terkekeh lalu melepas pelukannya dari Sung Min, Sung Min mengernyit melihat tingkah Hye Jin.

“Aku benar-benar tidak menyangka tunanganku bisa menjalin hubungan dengan sahabatku sendiri.”

“Hye Jin itu semua hanya..”

“Selama aku berada di USA kan?” potong Hye Jin.

“Mwo?”

“Selama aku berada di USA kau dan dia menjalin hubungan? Saat aku kembali ke Seoul kalian mencoba menutupi hubungan kalian? Aku berada di tengah-tengah kalian seperti orang bodoh? Seperti hewan yang mengikuti majikannya? Di bohongi dan di bodohi oleh kalian?”

Sung Min menghampiri Hye Jin, “Tidak, bukan begitu.” Ucapnya.

“Kau tahu betapa sakitnya aku menutupi kenyataan bahwa aku mengetahui sejauh mana hubungan kalian? Kau tahu betapa sakitnya aku terdiam saat melihat kalian mengatakan saling mencintai? Kau tahu betapa sakitnya aku ketika melihat kalian bercumbu? Dan kau tahu betapa tersiksanya aku ketika tahu rencanamu menceraikan aku saat kita sudah menikah nanti lalu kau menikah dengannya?”

“Hye Jin??”

“Apakah kau akan marah padaku jika aku tetap ingin menikah denganmu? Apakah kau akan membenciku saat aku menceritakan padamu apa yang telah ku lakukan pada Ha Na tadi?” isak Hye Jin.

Sung Min mencengkeram lengan Hye Jin, “Ada apa??” tanyanya panik.

“Aku menampar wajahnya..”

“Mwo?” Sung Min mengernyit.

“Dan aku menyuruhnya menggugurkan kandungannya.” Lanjut Hye Jin.

Sung Min merenggangkan cengkeramannya, ia berjalan mundur menghindari Hye Jin. “Kau membenciku?” tanya Hye Jin.

“Ini salahku jangan timpakan kesalahan padanya. Maafkan aku Hye Jin, aku memang mencintaimu tapi ada rasa yang tak bisa ku dapat darimu dan rasa itu ada pada diri Ha Na. Semenjak kepergianmu ke USA aku merasa kau lebih memperhatikan hal lain sehingga melupakanku sejenak. Ha Na dengan lembut berusaha meyakinkanku bahwa hubunganku dengan dirimu akan baik-baik saja walau jarak memisahkan kita, di situlah aku menemukan sisi lembut seorang wanita di diri Ha Na yang ingin ku lihat di dirimu. Aku memutuskan untuk mengetahui perasaan Ha Na lebih dalam tanpa bermaksud mengkhianatimu tapi aku sudah melangkah sejauh ini, dan aku menyesal.” Ucap Sung Min.

Hye Jin menatap tak percaya, inikah perasaan Sung Min yang sesungguhnya kepada Ha Na? Sebesar inikah rasa sakit yang harus Hye Jin telan? Hye Jin berjalan menghampiri Sung Min tangan kanannya terangkat dan.. Plaaak

“Sebesar inikah? Katakan apakah kesalahanku sebesar itu hingga kau berani menjalin hubungan dengan sahabatku? Katakan apa yang harus aku lakukan untuk membayar semuanya? Katakan apa kekuranganku!! Kau mendapat semua ini karena aku! Pekerjaan, harta, cinta, dan juga diriku!! Aku menyerahkan semuanya untukmu! Tubuh yang harusnya aku jaga hingga aku menikah aku serahkan untukmu, semuanya untukmu…!” teriak Hye Jin histeris.

Sung Min menghela nafasnya, ia tahu rasa sakit yang Hye Jin rasakan namun ia tak bisa ikut merasakan juga karena ia lah penyebab rasa sakit itu.

“Semua sudah terbuka jelas, aku tahu kini kau sangat membenciku dan aku juga akan menerima jika kau memutuskan membatalkan pernikahan ini.” Ujar Sung Min.

Hye Jin menghapus air matanya, “Tidak, aku tidak akan membatalkan pernikahan ini. Aku mencintaimu dan ingin menikah denganmu walau apapun yang terjadi. Kita akan menikah.” Ucap Hye Jin.

Hye Jin beranjak dari posisinya dan memeluk Sung Min, “Saranghae.” Ucapnya.

“Ah, aku lupa.. gaun ku tak mungkin aku tinggal disini.” Hye Jin tersenyum lalu berjalan menuju meja tempat ia meletakan gaunnya.

“Biar aku ambilkan.” Sung Min mendahului Hye Jin dan mengambil gaun tersebut lalu memberikannya pada Hye Jin.

Praak

Kotak berisi gaun itu terjatuh, “Kau kenapa? Apakah kau sakit?” tanya Sung Min memastikan.

Hye Jin menggeleng cepat, “Aku tidak apa-apa mungkin aku hanya terlalu letih, aku harus pergi sekarang.” Ujar Hye Jin seraya menyambar kotak itu lalu pergi.

00

Hye Jin menatap gaun di hadapannya, esok dia akan menikah dengan pria yang ia cintai. Rasa senang yang ia rasakan sebelumnya kini berubah menjadi sebuah rasa sakit yang mendalam hingga membuat tubuhnya lemas. Hye Jin meraih ponselnya dan menekan beberapa kombinasi angka di layar ponselnya.

Sejenak terdengar nada sambung dan tak lama seseorang di seberang sana menjawab telepon Hye Jin, “Yeoboseyo..”

“Oppa..”

“Ah? Hye Jin? Bagaimana kabarmu?”

“Tidak dalam kondisi baik.”

“Mwo? Waeyo?”

“Oppa, aku menerima tawaranmu waktu itu. Jemput aku di halte dekat rumah sekarang.”

“Kau serius? Apa ada hal yang terjadi padamu??”

Hye Jin terdiam, tangannya perlahan terasa lemas dan ponselnya pun terlepas dari genggamannya.

“Yeoboseyo.. Hye Jin-a?? Kau masih disana? Yeoboseyo??”

Tuut.. Tuut.. Tuut..

Hye Jin beranjak dari tempat tidurnya dan mengemasi pakaiannya, tepat pukul 8 malam Hye Jin keluar dengan tas yang berisi pakaian seadanya, ia mengendap-endap persis seperti seorang tahanan. Namun sebelum ia berhasil pergi ia menemui salah seorang pelayan yang menjadi orang kepercayaannya.

“Kau mengerti?” tanya Hye Jin.

“Ne..”

“Baiklah, jangan katakan pada siapapun aku pergi.” Ujar Hye Jin sebelum berjalan keluar rumah.

“Baik nona.”

Kemudian Hye Jin berbalik dan terus berjalan menuju sebuah halte yang letaknya tak jauh dari rumahnya, disana sudah terparkir sebuah mobil berwarna merah yang Hye Jin sangat kenali siapa pemiliknya.

“Maaf menunggu lama.” Ucap Hye Jin.

Sang pemilik mobil menoleh dan memperhatikan Hye Jin, “Kenapa tak mau menceritakannya padaku?” tanya orang itu.

“Mungkin belum saatnya.” Jawab Hye Jin.

“Baiklah, tujuan kita sekarang..”

“USA.” Jawab Hye Jin dengan ekspresi datar.

Mobil itu meluncur dengan bebas di jalanan berpacu dengan angin malam Seoul menuju bandara internasional Incheon.

00

Ha Na menatap wajahnya sendiri di cermin, kedua matanya membengkak akibat menangis dan rambutnya pun kusut. Ia menatap sebuah gaun yang ia persiapkan untuk menghadiri pesta pernikahan Hye Jin hari ini, gaun itu adalah gaun yang pernah Hye Jin pilihkan untuknya. Sangat cantik, cantik sekali namun Ha Na tak yakin gaun itu akan menjadi cantik jika ia yang mengenakannya.

Ha Na menutup wajahnya lagi dan kembali menangis, ia tak pernah menyangka persahabatannya dengan Hye Jin harus berakhir seperti dalam sebuah drama.

00

Sung Min berdiri di sebuah cermin dengan tuxedo yang kemarin Hye Jin berikan padanya, jantungnya berdegup kencang tak karuan, kedua telapak tangannya dingin dan berair sejak tadi.

“Gawat..!”

Sung Min terperanjat ketika ia mendengar beberapa orang saling berbisik dan telinganya menangkap ada seseorang yang membicarakan Hye Jin. Sun Min mencoba mendengar percakapan itu dengan seksama.

“Apakah kau tahu?? Pengantin wanita menghilang, dia tidak ada di rumahnya sejak tadi malam..?!”

Mata Sung Min membulat, ia mencoba mencerna lagi apa yang ia dengar barusan. Tubuhnya sempoyongan mencari keseimbangan, ia lantas berjalan keluar dan seketika itu juga orang-orang yang berada di luar yang tengah membicarakan Hye Jin langsung menutup mulut mereka masing-masing saat melihat Sung Min berjalan melewati mereka.

Sung Min menjalankan mobilnya menuju rumah Ha Na, ia berharap Hye Jin ada disana bersama Ha Na walau itu tidak mungkin karena perselisihan di antara mereka.

“Ha Na! Ha Na-ya!!” panggil Sung Min.

Ha Na yang masih terpaku di depan meja riasnya langsung menoleh ke luar pintu kamarnya, ia berlari kecil membuka pintu dan menemui Sung Min di depan.

“Oppa?”

“Ha Na!”

“Ada apa?” tanya Ha Na dingin.

“Kemana dia?” Sung Min bertanya dengan nada panik.

“Mwo? Nugu?”

“Hye Jin, kemana dia? Apakah dia tidak ada disini? Atau semalam dia mampir kesini lagi? Atau dia memberitahu kemana dia pergi? Kemana dia katakan padaku!?” cerocos Sung Min.

“Apa maksudnya?” tanya Ha Na pelan dan raut wajahnya berubah dari dingin menjadi cemas.

“Hye Jin menghilang, dia menghilang setelah kemarin ia memberiku pakaian pengantin ini. Dia tidak ada di rumah sejak semalam.” Jelas Sung Min.

“M-mwo??”

Tingg..!

Sung Min dan Ha Na menoleh ke arah pintu masuk, Ha Na buru-buru membukakan pintu dan berharap Hye Jin yang datang walaupun sahabatnya itu datang dengan membawa sebilah pisau untuk menusuknya ia tak peduli, yang ia pedulikan adalah ia melihat Hye Jin sahabatnya baik-baik saja.

“Ah Rin?”

“Aku datang kemari untuk mengantar ini, semalam Hye Jin nona yang menyuruhku untuk mengantar ini.” Ujar Ah Rin.

“Semalam? Apa ini?” tanya Ha Na.

“Saya tidak berani membukanya, nona buka saja sendiri. Saya harus kembali sebelum tuan dan nyonya kembali dari kantor polisi.” Ucap Ah Rin.

“Tunggu!”

“Ne?”

“Kalau begitu apakah kau tahu kemana Hye Jin pergi?” tanya Ha Na.

Ah Rin tersenyum, “Maaf aku tidak tahu karena Hye Jin nona terburu-buru malam itu.” Jawab Ah Rin sambil berlalu pergi.

Ha Na menerima bingkisan berukuran sedang itu lalu kembali masuk, “Siapa yang datang?” tanya Sung Min.

“Ah Rin, kau tahu dia kan?”

“Oh. Ya aku tahu, ada apa?” tanya Sung Min lagi.

“Semalam dia bilang Hye Jin menyuruhnya mengantar ini kesini.” Jawab Ha Na.

“Itu berarti sebelum Hye Jin meninggalkan rumah kan? Berarti dia tahu?”

Ha Na menggeleng, “Dia tidak tahu, aku sudah menanyakannya.” Sahut Ha Na sambil membuka bingkisan di tangannya.

Sung Min dan Ha Na terkejut saat melihat isi bingkisan itu, gaun yang Hye Jin rampas dari Ha Na beberapa waktu lalu kini kembali ke tangan Ha Na.

“Kenapa bisa begini?” desis Ha Na.

“Ada tulisan disini.” Tunjuk Sung Min seraya meraih selembar kertas dari dalam kotak.

“Ha Na-ya.. kau sedang membaca surat ini? Mungkin, saat kau membacanya aku sudah tidak berada di Seoul lagi. Aku ingin mengubur semuanya, aku ingin melupakan semua yang terjadi antara kita. Aku minta maaf sudah menamparmu, aku minta maaf sudah berkata kasar padamu, dan aku minta maaf sudah menyuruhmu untuk mengugurkan kandunganmu. Harusnya aku mengerti perasaanmu karena aku juga seorang wanita dan nantinya juga akan menjadi seorang ibu. Aku sungguh malu pada diriku sendiri, aku hanya ingin bahagia bersama orang yang ku cintai. Aku benar-benar minta maaf menjadi sahabat yang egois bagimu, aku tahu kau pasti sangat membenciku sekarang, jujur aku juga ingin membencimu dan Sung Min oppa tapi aku tidak bisa. Aku sengaja mengirimkan gaun itu untukmu, menikahlah dengan Sung Min oppa, aku akan mendoakan kebahagiaan kalian di tempat ku sekarang.”

Surat itu terlepas dari genggaman Ha Na, tangis Ha Na pun pecah setelah membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di kertas itu. Begitu pula dengan Sung Min yang turut membaca tadi, air matanya menitik.

“Bagaimana ini?? Aku sudah menyakitinya, aku sudah menamparnya dan memakinya. Aku benar-benar jahat.” Isak Ha Na.

00

NYU Medical Center (USA)

“Kenapa kalian baru datang?” Seorang pria dengan seragam dokter tengah duduk membolak-balikan catatan di tangannya.

“Bukankah aku sudah ada disini jadi kenapa harus di pertanyakan lagi?” sahut Hye Jin ketus.

Choi Seung Hyun nama dokter itu, ia tersenyum mendengar ucapan Hye Jin, “Baiklah aku mengalah.” Ujarnya, “Jung Soo hyung, bagaimana bisa kau membujuk anak ini datang kemari?” celetuknya kemudian.

Pria yang di panggil Jung Soo itu tersenyum, “Dia yang menelponku dan mengajakku kemari, bukankah itu berita gembira?”

“Kenapa kalian ini? Tertawa seperti itu?” omel Hye Jin yang melihat tingkah dua pria di hadapannya itu.

Jung Soo dan Seung Hyun tertawa bersama, “Jadi kau sudah tahu kan apa yang harus kau lakukan disini?” tanya Seung Hyun.

“Ya aku mengerti, aku sudah mengenakan seragam pasien dan siap untuk menikmati hari di sini untuk waktu yang tak bisa di tentukan.” Jawab Hye Jin sedikit mendramatisir.

Seung Hyun mengangguk, “Bagus.. kalau begitu tidak keberatan kan kalau sekarang kita ke ruang radiologi?”

“Oke..” Hye Jin mengangguk seraya beranjak dari kursinya.

“Oppa.” Tiba-tiba Hye Jin menoleh lagi.

“Wae?” tanya Jung Soo dan Seung Hyun bersamaan.

“Ini akan menjadi rahasia kita bertiga kan?”

Jung Soo dan Seung Hyun berpandangan sejenak lalu kembali menatap Hye Jin, “Apa kalian tidak bisa menjawabnya lebih cepat?” desak Hye Jin.

“Aah ya baiklah..” sahut Jung Soo cepat, sementara Seung Hyun hanya mengangguk.

Hye Jin tersenyum, “Aku bisa mempercayai kalian, komawo.” Ucapnya lalu pergi.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Sebelumnya ia bersikeras tidak mau meninggalkan Seoul.” tanya Seung Hyun.

“Dia membatalkan pernikahannya.” Jawab Jung Soo sambil menatap pintu yang sudah tertutup.

“Mwo? Wae?” tanya Seung Hyun.

“Tunangannya menghamili sahabatnya sendiri.”

“Mwo?? Apakah dia kemari untuk…”

“Dia memutuskan untuk menjalani terapi ini untuk melupakan kejadian itu. Dan yang pasti ia ingin menjalani hidupnya dengan normal tanpa penyakit yang bersarang di tubuhnya sekarang.” Ungkap Jung Soo.

Seung Hyun menghela nafasnya, “Apakah dia membenci sahabat dan tunangannya?” tanyanya lagi.

“Ani, aku dengar dia menyuruh sahabatnya untuk menikah dengan tunangannya.”

“Anak itu benar-benar tidak berubah.” Desah Seung Hyun.

Jung Soo menghela nafas berat lalu beralih melirik Seung Hyun, “Tolong jaga dia selama disini.” Ujarnya.

“Hyung mau kemana?” tanya Seung Hyun.

“Aku tidak bisa menemaninya terus disini, aku sudah meninggalkan pekerjaanku selama beberapa hari. Aku harus kembali ke Seoul.” Jawab Jung Soo.

“Arraseo, aku akan menjaganya baik-baik.”

00

“Aku berharap kalian hidup bahagia, maafkan keegoisanku selama ini. Untuk orang yang sangat ku cintai Lee Sung Min, mencintaimu bagiku adalah anugerah terindah dalam hidupku, menyayangimu adalah rasa paling menyenangkan sepanjang kisah cintaku, terima kasih kau memberiku 4 tahun yang sangat berkesan, terima kasih kau pernah memberiku cinta yang tak pernah ku rasakan sebelumnya, terima kasih kau memberiku impian menjadi seorang pengantin wanita untukmu walau hal itu tak bisa terwujud, tapi aku bahagia walau hanya memimpikannya. Aku mencintaimu selamanya mungkin hingga Tuhan mencuci otakku dan menghilangkan dirimu dari pikiran dan jiwaku. Dan.. untuk sahabatku Cho Ha Na, kau adalah gadis tercantik yang pernah ku temui. Kau tahu? Aku sangat iri dengan kehidupanmu yang mandiri, kau bisa hidup sendiri tanpa kedua orang tuamu, kau bisa membangun karirmu yang cemerlang, sedangkan aku? Aku hanya seorang gadis yang hidup dalam kesombongan dan keangkuhan, terima kasih.. di saat semua orang mengucilkanku karena sifat angkuhku kau malah mengulurkan tanganmu untuk  membantuku hidup di dunia ini, terima kasih sudah menyayangiku, terima kasih karena mencintaiku sebagai sahabatmu, dan terima kasih untuk semua air matamu di saat aku terpuruk. Kalian berdua adalah dua orang yang sangat aku cintai setelah kedua orang tuaku, mungkin saat ini kalian sedang menikmati pernikahan kalian. Aku turut senang, aku mendoakan kalian dari sini.. Bahagialah…~ “

Hye Jin melipat kertas berwarna putih yang berisi beberapa tulisan yang ia tulis barusan, ia menghela nafasnya lagi entah sudah berapa kali ia melakukan itu. “Komawo..” desisnya kemudian.

“Semua akan baik-baik saja,” tiba-tiba Seung Hyun dan Jung Soo sudah berjalan menghampiri Hye Jin.

“Ya benar.” Sahut Hye Jin.

“Yang paling utama kita harus berusaha membuang kanker tulang belakangmu, dan itu semua tidak akan berhasil jika kau tidak punya keinginan dan tekad yang kuat.” Ujar Seung Hyun.

Senyum Hye Jin mengembang, “Kau benar oppa.. aku akan berjuang demi hidupku, tolong dampingi aku.”

“Tentu.” Seung Hyun dan Jung Soo mengangguk.

Hye Jin meletakan kertas yang ia genggam lalu merebahkan tubuhnya, “Komawo.” Ucapnya pada Seung Hyun dan Jung Soo lalu mulai memejamkan kedua matanya.

FIN

Advertisements

15 thoughts on “Wedding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s