It Has To Be You 05

 

Author: imedoki45, bumdictator, dephaQyi

Title: It Has To Be You

Cast: All member of EXO-K (Chanyeol, Joonmyun/Suho, Jongin/Kai, Sehun, Baekhyun, Kyungsoo/D.O), Lee Minyoung (OC), Jung Yeonra (OC), Jung Heerin OC)

Genre: Romance, Friendship

Rating: tentuin sendiri

Annyeong yeorobundeul~!! Park sister kembali lagi membawa It has To Be You XD Mian baru ngepost sekarang… ini semua karena kami bertiga sangat sibuk qaqa T^T harap maklum yah 😀 Naah… tanpa banyak ngecipris, mari di baca fanfictnya sambil nyemil keripik. Sorry for typo dan gaje’s story… kkk… HAPPY READING GUYS!!

 

“Tunggu, Yeonra-ya!”

Yeonra terus berjalan dengan acuh sambil membawa tas di tangannya. Dia tidak menyangka Sehun akan membuatnya kesal siang ini. Padahal ia benar-benar serius sedang punya acara tidak lama lagi. Tapi namja itu bersikeras mengambil giliran tampilnya.

‘Sungguh keterlaluan. Sudah berapa kali namja itu bersikap tidak mengenakkan hati begini.’

“JUNG YEONRA! Dengarkan aku!”

“Sirheo!”

Greb.

Terlambat. Yeonra bisa merasakan lengannya ditarik. Secepat apapun Yeonra berjalan, tidak sebanding dengan langkah Sehun yang panjang.

“Mianhae. Mianhae, aku tidak bermaksud membuatmu marah, Yeonra-ya. Mianhada. Kau bisa kembali dan mengambil giliranmu untuk tampil.”

Kata Sehun sungguh-sungguh. Yeonra terdiam, masih enggan menatap namja yang sudah mengejar-ngejarnya itu.

“Yeonra-ya..”

Menyadari yeoja di depannya tidak akan membalikkan badan, Sehun melangkah maju dan kini ia berada di depan Yeonra.

Tapi, tanpa di duganya. Yeoja itu malah menoleh ke arah lain dan tidak menatap Sehun. Melihat yeoja didepannya bersikap dingin, entah kenapa tiba-tiba Sehun merasakan perasaannya tertohok. Kerongkongannya tercekat, ia seakan tidak mampu bicara.

“Nal honja naebeoryeo dwo.. (Leave me alone)” Kata Yeonra lirih, hampir berbisik.

Masih tidak menatap wajah Sehun, yeoja itu pergi meninggalkan Sehun sendirian di pintu gerbang sekolah. Ia pun segera masuk ke dalam taksi yang sudah di stop-nya tadi.

Sehun akhirnya membalikkan badannya setelah beberapa detik pikirannya kacau mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan yeoja manis itu. Dengan wajah sedih, ia melihat taksi berwarna biru melaju di jalanan yang ramai. Ia merasakan perasaan marah dan sedih yang berkecamuk hebat didalam hatinya. Tapi.. tidak ada yang bisa dilakukannya.

‘Meninggalkanmu sendiri..?’

***

Baekhyun segera mengomeli Sehun begitu namja itu kembali ke aula sekolah yang sudah mulai sepi karena sebagian besar siswa-siswi sudah tampil dan pulang kerumah masing-masing. Diam-diam Heerin mengintip dari balik panggung bersama Joonmyun dan Chanyeol yang juga penasaran.

Mereka melihat Sehun hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanoa perlawanan meskipun Baekhyun memarahinya cukup keras. Melihat hal itu, Chanyeol dan Joonmyun pun saling berbisik.

“Tidakkah kau pikir, Sehun terlihat berbeda?”, bisik Joonmyun pada Chanyeol yang langsung mengangguk setuju.

“Eo? Waeirae?” tanya Heerin penasaran.

“Biasanya, Sehun tidak akan mau dimarahi sembarangan meskipun dia salah, dia bukan namja yang tunduk saja saat dimarahi. Seperti sekarang ini.” Jawab Chanyeol menjelaskan kepada kekasih Joonmyun itu.

“Eo.. Geurae. Keundae, kalau dilihat dari wajah Yeonra tadi, sepertinya gadis itu benar-benar marah. Sungguh. Yeoja itu sebenarnya mudah marah, lho.” Kata Heerin.

“Geurae? Ckckck, berarti Sehun sudah membuat kesalahan besar.” Kata Joomyun.

Plek!

Tiba-tiba Joonmyun dan Chanyeol merasakan tepukan di punggung mereka. Mereka pun segera membalikkan badannya dan mendapati Jongin memandang mereka penasaran.

“Mwohae? Kenapa mengintip-mengintip begitu?” tanya Jongin.

“Ah~ kami sedang mengintip Sehun yang diomeli Baekhyun.” Jawab Chanyeol.

“Eo? Apakah aku melewatkan sesuatu yang seru?! Hish~ ini gara-gara aku pulang kerumah setelah tampil.” Kata Jongin penuh penyesalan.

Tiba-tiba..

Cklik!

Ke empat orang yang sedang bergosip itu pun langsung terdiam saat menyadari sesosok makhluk berwajah lesu yang masuk ke backstage dari pintu tidak jauh dari mereka. Makhluk itu pun tidak berkata sepatah kata apapun dan hanya meraih tas punggungnya dari kursi lalu kembali keluar dari backstage.

“Uwaa~ aura sedihnya terasa sekali! Seperti di film-film..” bisik Chanyeol begitu Sehun pergi.

“Uwaa~ apa yang terjadi dengannya?!” tanya Jongin lagi dengan lebih penasaran.

“Haishh~ neon jeongmal!”, Heerin pun dengan tidak sabaran menjelaskan apa yang telah terjadi antara sahabatnya dengan Sehun. Jongin mengangguk-angguk mengerti.

***

Malam hari, di sebuah Mall..

Yeonra dan Kyungsoo berkeliling mencari sepatu formal untuk acara showcase esok hari. Yeonra sengaja megajak oppanya sendiri karena ia tau selera oppanya sangat bagus terhadap fashion.

“Kau mau sepatu seperti apa?” tanya Kyungsoo sambil memperhatikan sederetan sepatu-sepatu cantik di etalase sebuah butik sepatu yang terkenal.

“Emm.. terserah oppa saja. Tapi aku suka yang warnanya peach.” kata Yeonra.

“Uhm.. cobalah yang ini..”

Yeonra memperhatikan sebuah high heels berwarna peach yang di tunjukkan oleh oppanya.

“Hm? Boleh juga. Tapi.. tidak. Aku ingin yang lebih manis.” Kata Yeonra acuh.

Kyungsoo pun hanya menggeleng-geleng.

“Ara.. Ara.. Ayo kita jalan-jalan lagi.” tawar Kyungsoo lembut pada dongsaengnya yang terlihat jelas sedang tidak mood saat itu. Yeonra pun hanya mengangguk kemudian mengikuti oppanya.

Tiba-tiba Yeonra menangkap sosok gadis mungil dari kejauhan yang sangat dikenalnya. Sosok itu tampak sedang memperhatikan sebuah etalase toko. Seketika senyum Yeonra pun berkembang. Ia menarik lengan oppanya dan cepat-cepat menghampiri gadis itu.

Tuk tuk!

Minyoung menoleh dengan wajah polos begitu merasakan tepukan kecil pada pundaknya.

“Kyaa~! Ternyata benar Minyoung. ^^”

Minyoung terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka akan bertemu Jung Yeonra (lagi) di pusat perbelanjaan.

“A, Annyeong, Yeonra-ssi.” Kata Minyoung canggung.

“Mwohae? Kau bersama siapa disini?” tanya Yeonra ramah.

“Eo, aku bersama bibi Sora. Beliau sedang di dalam toko membayar barang.”

“Eo? Beli… ah, annyeonghaseyo~”

Yeonra segera menunduk ramah ketika seorang ahjumma menghampiri Minyoung dengan wajah bingung.

“Imonim, i yeojaneun Jung Yeonraimnida.” Kata Minyoung begitu bibinya kembali.

“Aigoo~~ Neomu yeppeo temanmu ini…” Ujar bibi sora sambil tersenyum manis.

Yeonra yang mendengarnya langsung tersenyum cerah. “hehe… Gomawo, Ahjumma. ^^”

“Youngie-ya… apa dia teman dekatmu di sekolah…?” tanya Bibi Sora berseri-seri. Walau membawa barang yang cukup banyak, ia masih juga bersemangat bila menyangkut hal-hal tentang keponakannya.

“Eo…?” Minyoung segera mendongak, dan menatap Yeonra penuh arti. Ia tidak tahu harus menjawab apa pada bibinya. Karena sesungguhnya ia merasa tidak dekat dengan gadis yang bernama Jung Yeonra itu.

“Keuromm..!! Minyoung wa naneun gajang chinhan chingu ibnida! ^^”

Pernyataan Yeonra yang tidak di duganya, langsung membuat Yeoja itu menoleh kea rah Yeonra. matanya membulat tidak percaya dengan pendengarannya. Di lihatnya Yeonra membalas tatapan Minyoung smabil tersenyum manis. “Benar kan, Young…?” Tanyanya riang.

“Eo..? eh… emm… Ye~” jawab Minyoung. Seketika perasaan senang yang luar biasa, membuncah di dalam dadanya.

“Ya Tuhan… Aku tidak percaya Yeonra menganggapku sebagai teman dekatnya. Senangnyaa~ ^^” batin yeoja itu dalam hati. Satu senyum manis terukir di bibirnya.

“Ah, geuraeyo…? Aa~!! Bagus sekali!! aku kira Minyoung tidak memiliki teman, karena tiap kali pulang sekolah, sikapnya selalu terlihat lesu. Hhh~ sekarang bibi merasa lega, mendengar kau memiliki teman. Apalagi kalau cantik seperti Yeonra ini.” Ujar Bibinya masih dengan senyum ramah.

“Imo~~” rengek Minyoung karena sedikit malu dengan kelakuan bibinya.

“Ah, wae~?” Tanya bibi Sora dengan bingung. “Yeonra-ssi… aku harap kau bisa menjadi teman yang baik bagi keponakanku. Walau dia sedikit pemalu dan tertutup, tapi dia sangat baik dan perhatian. Kau tidak akan menyesal berteman dengannya. Ne?”

“Imo-ya~!!” rengek Minyoung sekali lagi. wajahnya kini memerah bukan main, karena ucapan bibinya yang berlebihan.

“Haha… kkokjongma, Ahjumma. Tentu aku tidak akan pernah menjadi teman yang tidak berguna untuk Minyoung. Yaksok!” balas Yeonra sambil tertawa renyah. Oppanya yang sedari tadi diam mendengarkan, hanya mengangguk dan tersenyum.

“Eh…? Apakah ini oppamu?” Tanya bibi Sora lagi. Minyoung yang juga baru sadar akan keberadaan Oppa Yeonra, segera mendongakkan kepalanya pada namja yang tingginya tak jauh beda dengan yeodongsaengnya itu.

Namja itu memiliki alis yang cukup tebal dan bibir yang menarik. Wajahnya sangat mirip dengan Yeonra. tampan dan menarik. Bisa di bilang, Oppa yeonra adalah versi namja dari Jung Yeonra.

Diam-diam Minyoung tersenyum melihat persamaan itu. Oppanya juga memiliki wajah yang ramah seperti adiknya.

“Ne. jeoneun, Jung Kyungsoo imnida. Aku adalah Oppa yeonra. Bangapseumnida~” sahut Oppa Yeonra ramah. Bibir bibi Sora semakin berkembang mendengarnya.

“Omona~ Kalian benar-benar kakak-adik yang sungguh menarik.” Komentar bibi sora dengan terkagum-kagum. Kedua Jung bersaudara itu hanya tersenyum membalas pujian Bibi Minyoung tersebut.

“Ah… Minyoung-ah. Apa kau mau berjalan-jalan denganku dan kakakku?” tawar yeonra.

Minyoung segera memandang bibinya ragu. Lalu memandang Yeonra dengan tatapan memelas. “Mianhae, Yeonra-ssi… aku masih harus menemani bibiku berbelanja.” Jawabnya dengan lesu.

“Eyy…!! Siapa bilang bibi minta bantuanmu. Sudahlah… sebaiknya kau bermain dengan temanmu. Bibi bisa berbelanja sendiri. ^^” ujar bibinya tiba-tiba.

“Eh…? Keundae, Imo…” belum sempat Minyoung memprotes, Bibinya lagi-lagi memotong ucapannya.

“Ah, Yeonra-ssi. Ahjumma titip Minyoung padamu ya. Annyeonghi gyeseyoo~~ ^^” setelah mengatakan hal itu, bibi Sora pun segera berlalu meninggalkan Minyoung yang terpekur di tempatnya.

Yeonra tersenyum senang. Ia segera menarik lengan Minyoung hingga gadis itu sadar dari kekagetannya.

“Minyoung-ah… Kkaja! Saatnya kita bersenang-senang!!” ujar Yeonra sambil menarik lengan Minyoung pergi, diikuti oleh Oppanya, Kyungsoo.

***

“Ya! Apa menurutmu Yeonra akan bersikap seperti itu selamanya terhadap Sehun…?” Tanya Joonmyun pada kekasihnya yang kini sedang bersandar di bahunya.

Heerin segera mendongak menatap Joonmyun. Namun kepalanya masih tetap bersandar pada kekasihnya tersebut. “Eo..? hmm… menurutku~…” Heerin mencoba menerka, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke dagu. “Menurutku, kalau Sehun tidak melakukan tindakan yang lebih lanjut, kurasa Yeonra akan terus memperlakukan Sehun seperti itu selamanya.” Jawab Heerin Pada akhirnya.

“Ha? Maksudmu melakukan tindakan yang lebih lanjut apa?” Tanya Chanyeol dari depan kemudi. Saat ini geng Chanyeol, dalam formasi lengkap (plus Heerin), sedang dalam perjalanan pulang dari gladi bersih, dengan menaiki mobil Chanyeol.

“Dasar bodoh! Tentu saja Sehun harus melakukan sesuatu yang bisa membuat Yeonra memaafkannya.” Sahut Jongin yang duduk di sebelah Chanyeol. Mendengar kata ‘bodoh’ dari Jongin, namja bernama Park Chanyeol itu, seketika menjitak kepala Jongin keras.

“AW! Apo!” teriak Jongin kesakitan. Chanyeol hanya menyeringai puas, karena ia telah berhasil membalas. Namun matanya segera beralih pada Sehun yang hanya terdiam memandang ke luar jendela dengan pandangan kosong.

Chanyeol mengerti apa yang sedang di pikirkan sahabatnya tsb. Dalam hati ia sedikit kasihan dengan namja itu. untunglah Chanyeol tidak pernah merasakan galau hanya karena seorang Yeoja. Dan ia memastikan bahwa perasaan seperti itu tidak akan pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Buat apa repot-repot memikirkan seorang yeoja, kalau akhirnya ia harus merasakan perasaan menyakitkan seperti yang di alami Sehun. Pikir Chanyeol sambil menghela nafas panjang.

Saat mobilnya melewati jalanan sepi, tiba-tiba sebuah mobil besar hitam yang ada di sebelahnya, segera menghentikan mobilnya hingga menghasilkan decitan yang memekakkan telinga karena ia dengan tiba-tiba menginjak rem untuk menghindari tabrakan dengan mobil yang kini berhenti di depannya. Heerin bahkan sampai berteriak panic saking kagetnya.

Joonmyun yang sebenarnya juga sedikit khawatir, segera menenangkan Heerin. Namun alisnya segera mengerut dan memandang dengan tajam beberapa sosok berpakaian serba hitam yang keluar dari mobil hitam tadi.

Chanyeol segera keluar dari mobil sambil menutup pintu mobil dengan sangat keras. Hingga membuat Heerin lagi-lagi terpekik kaget. Jongin dan Sehun segera menyusul turun dari mobil, menghampiri Chanyeol yang kini sudah murka.

“Heerin-ah. Aku akan ikut turun. Sebaiknya kau tetap di dalam mobil. Jangan pernah keluar dari mobil ini sekali pun! ara?!” ujar Joonmyun tajam. Heerin hanya mengangguk tak berdaya jika Joonmyun berkata seperti itu. tapi tak ayal, dia merasakan kekhawatiran yang sangat di dalam hatinya. Orang-orang berpakaian hitam itu, sungguh membuatnya merasa tidak nyaman.

Setelah memastikan bahwa Heerin benar-benar tidak akan melanggar perintahnya, Joonmyun pun segera menutup pintu mobil dan tanpa babibu, mengunci kekasihnya itu di dalam mobil! Tanpa Heerin sadari!

“Apa lagi yang kalian inginkan, hah?!” bentak Chanyeol pada orang-orang yang berpakaian hitam tsb. Joonmyun, Jongin, dan Sehun berdiri tepat disisi kiri dan kanannya.

Salah seorang di tengah-tengah orang tersebut, tersenyum miring. “Hmh… urusan kita belum selesai, Park Chanyeol!” jawab orang itu dengan nada sinis.

“Aku pikir masalah kita sudah selesai sejak pertarungan itu, Kim Jinseok.” Balas Chanyeol dengan senyum miring pula.

Namja yang bernama Kim Jinseok itu mengambil satu langkah. “Tidak, Park Chanyeol. Sekali pun aku belum merasa bahwa urusan kita telah selesai.” Sahut namja itu.

“Cih…!! Sikapmu sungguh memalukan, Jinseok-ah…” lagi-lagi Chanyeol membalas dengan sinis.

“Yeol-ah… aku harap kita bisa menyelesaikannya secara baik. Aku tidak ingin terjadi apa-apa. Apalagi kita sedang membawa bersama Heerin.” Bisik Joonmyun sambil melirik Heerin yang kini sedang menatap mereka dengan cemas.

“Hah! Sepertinya kau takut akan terjadi baku hantam, Kim Joonmyun.” Sahut seorang namja lain yang ada di belakang Jinseok.

Mau tak mau, kata-kata yang membuat Joomyun naik darah itu, segera menatap namja itu dengan pandangan menusuk. “Apa maksudmu, Ryeojin?” tanyanya.

“Haha… apa kau tidak pernah bersekolah Joonmyun-ah…? Hingga membuatmu tidak mengerti apa yang kukatakan.” Ejek Ryeojin. “Biar kukatakan sekali lagi. kau pasti takut bila berhadapan dengan kami, hingga kau berbisik di telinga Chanyeol untuk menyelesaikan perkara ini dengan baik-baik. Haha… tidak semudah itu, Joon—“

BUAKK!!

Belum sempat Ryeojin menyelesaikan kalimatnya, Joonmyun sudah mendaratkan bogemnya tepat di hidung namja itu hingga teseungkur di tanah. darah segar mengalir dari hidung Ryeojin.

“Neo…” ujarnya sedikit kaget. Di usapnya darah yang masih menetes di hidungnya. Melihat bercak merah di jarinya, Ryeojin segera beranjak dari tempatnya dan mencoba membalas Joonmyun. tapi pukulannya meleset karena Joonmyun dengan gesit dapat menghindarinya.

Sekilas ia melihat Chanyeol dan teman-temannya yang lain juga melayangkan bogem mereka pada teman-teman Jinseok dan Ryeojin yang lain.

Chanyeol yang melawan Jinseok, sudah memukul wajah namja itu berkali-kali. Wajahnya yang tampan masih bersih tanpa luka sedikitpun. Dengan rasa murka yang tidak bisa di bendungnya, ia terus menumpahkan bogem-bogemnya pada Jinseok tanpa ampun.

Di sisi lain, Sehun yang belum terluka, mulai menendang-nendang namja yang bernama Yoo Shinkyung tanpa ampun. Kebetulan, rasa frustasi yang tadi di rasakannya dapat ia salurkan pada orang yang tepat.

Setelah yakin bahwa Shinkyung sudah tidak bisa membalas, Sehun segera berbalik hendak membantu kawannya yang lain. Tapi tiba-tiba, sebuah tangan membuatnya berbalik lagi dan tanpa ampun melayangkan bogemnya. Sehun sempat menghindar, walau tangan terkepal itu dengan sukses berhasil menghantam pelipisnya. Sehun terseungkur di tanah.

Joonmyun yang tak jauh berkelahi di dekatnya, segera menghampiri Sehun dan cepat2 menariknya berdiri.

Satu goresan kecil terhias pipi Joonmyun. mereka berdua—Joonmyun dan Sehun—lalu membuat kuda-kuda untuk melindungi diri mereka masing2.

“Sialan kau!!” teriak Joonmyun dengan amarah yang bergemuruh di dadanya. Seketika ia segera menyerang antek-antek Jinseok dan Ryeojin tanpa ampun.

Sedangkan Chanyeol, tetap dengan wajah bersihnya, segera menghampiri Jongin yang masih kesusahan menghadapi Yangseok yang berbadan besar dan sangat tangguh.

“Rasakan ini, bodohh!!” teriak Chanyeol sambil mendaratkan pukulan mematikannya.

Jongin segera menggunakan kesempatan itu untuk membalas Yangseok yang masih tersungkur di tanah dan memberinya tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi sampai akhirnya namja itu lemah tak berdaya.

“Hyung…!!!” teriak Sehun tiba-tiba, membuat Chanyeol dan Jongin menolehkan mereka ke sumber suara. Dapat di lihatnya, Joonmyun kini sedang di tending habis-habisan oleh Ryeojin. Sehun yang ingin membantunya, terhalangi oleh Shinkyung yang masih saja menyerangnya.

***

Heerin yang melihat adegan itu, berteriak-teriak panik, melihat kekasihnya di pukuli namja sangat berengsek. “KYA!! Andwae!! Andwae!! Joonmyun-ah!! Jangan sakiti Joonmyun!!!” teriak Heerin dari dalam mobil. Airmata bercucuran di pipinya. Ia berusaha membuka pintu mobil yang saat ini sedang menguncinya di dalam. Namun tetap saja gagal, karena Joonmyun sengaja menguncinya dari luar. “Huhu!! Joonmyun-ah!! Andwae…!!” teriak heerin sekali lagi.

“Tidak bisa!! Ini tidak boleh terjadi!! Aku harus minta bantuan…!! Tapi siapa…? AH..! YEONRA!!” yeoja itu lalu dengan panic, segera mengeluarkan poselnya dari dalam tas dan menghubungi sahabatnya itu.

‘yeobose…” belum sempat Yeonra mengeluarkan suaranya, Heerin sudah memotongnya duluan.

“Yeonra-ya!! Tolong kamii!!!!” teriak Heerin dengan panic dan bercampur cemas.

***

Saat itu juga tanpa babibu, Chanyeol dan Jongin menyerbu Ryeojin dengan murka. Chanyeol dengan kasar menarik bahu Ryeojin dan tanpa banyak bicara, di layangkannya bogem mentahnya sekuat tenaga pada Ryeojin. Jongin pun tanpa segan ikut melayangkan pukulannya pada perut Ryeojin.

Sehun ikut menyusul, setelah menyelesaikan urusannya dengan Shinkyung. “Rasakan ini, dasar sialan!!” umpatnya tanpa bisa menahan amarahnya lagi.

Ryeojin pun tidak bisa melawan lagi. ia dengan sukses terkapar di tanah dengan darah menetes dari hidung dan bibirnya yang robek.

Chanyeol, Jongin, dan Sehun pun segera menghampiri Joonmyun yang sdang merintih dan memegangi perutnya yang kesakitan. “Joonmyun hyung. Gwaenchanha…?” Tanya ketiganya dengan cemas. Joonmyun hanya mengangguk sekilas walau ia masih juga merintih.

“Sebaiknya kita cepat ke rumah sakit.” Ajak Chanyeol yang kemudian dib alas anggukan oleh 2 oang disisinya.

Joonmyun pun langsung di papah oleh Sehun dan Jongin. Sedangkan Chanyeol, berdiri di belakang mereka. namun tanpa ia duga, seseorang di belakangnya memukul kepalanya dengan menggunakan tongkat. Saat itu juga, Chanyeol merasakan kepalanya seakan pecah. Meskipun begitu, ia tetap bertahan dan kembali menyerang, hingga membuat Jinseok yang tadi memukulnya, kembali terkapar di tanah.

“beres sudah…” ujarnya tenang sambil menepuk-nepuk tangannya. Ia pun berbalik hendak menghadap ketiga temannya, ketika semuanya dengan tiba-tiba menjadi gelap.

“CHANYEOL-AH!!” hanya teriakan ketiga sahabtanyalah yang sayup-sayup di dengarnya hingga pada akhirnya ia tidak sadarkan diri.

***

“MWO??!!!” teriak Yeonra tidak percaya. Wajah cemas segera membingkai wajahnya yang cantik. Minyoung dan Kyungsoo yang saat ini sedang duduk di dekat yeoja itu, memandangnya dengan raut penuh tanda Tanya.

“Arasseo!! Aku akan memanggil polisi dan menghampirimu. Kau ada dimana?” Tanya yeonra dengan nada khawatir yang tidak di buat-buat.

“….”

“Arasseo. Kau tunggu aku, Heerin-ah. Jangan panic. Kami akan segera menyusulmu.”

TUT!

Panggilan pun terputus. Yeonra masih dengan wajah cemas, memandang dua orang di depannya. “Minyoung-ah. Oppa. Sebaiknya kita harus segera menyusul Heerin. Mereka sedang dalam bahaya!” pekiknya dengan rasa khawatir yang membuncah.

Tak lama kemudian yeonra, Kyungsoo, dan minyoung pun tiba di TKP disusul beberapa detik kemudian beberapa polisi datang dan langsung menghandle segala sesuatu yang ada di TKP, termasuk tongkat baseball yang digunakan orang-orang brengsek tadi memukul Chanyeol. (ups, kemanakah cast2 tak diundang tadi pemirsa?). Rupanya para bandit brengsek tadi sudah kabur duluan sebelum polisi dan teman-teman tiba di TKP.

“omona!!” Yeonra kaget dengan apa yang dilihatnya. Chanyeol yang tak berdaya, Joonmyun yang terkapar, luka lebam pada wajah Jong in, dan sedikit luka lecet di wajah Sehun. Setelah melihat wajah sehun yang sepertinya tidak ada yang parah Yeoja ini pun teringat peristiwa menjengkelkan saat di aula tadi.

“cih.. apa-apa’an dia! Yang lain pada terkapar semua. Kenapa hanya wajahnya saja yang baik-baik saja! Menyedihkan! Aku bertaruh dia tak ikut andil dalam perang ini” batinnya menghardik Sehun. Namun pandangannya langsung teralihkan setelah ia melihat Heerin yang sibuk menggedor-nggedor jendela mobil bak beruang ngamuk tak diberi makan sampai menangis (jahat sekali ni orang -,-) karena tak ada satupun yang menghiraukannya. Dengan seribu langkah ia menghampiri Heerin dan mencoba membuka pintu mobil.

cklek.. cklek cklek!

“eo? Tidak bisa dibuka?!” ujar yeonra sedikit berteriak karena ia yakin suaranya tak mungkin terdengar jelas oleh Heerin.

Melihat takdir yang menyatakan kalau dia harus menjadi petunggu mobil selamanya. Heerin pun tak bias tinggal diam. Ia menelpon yeonra

“Ya! Aku terkunci! Ambil kunci mobilnya disaku Joonmyunku! Cepat!” perintah Heerin

Yeonra pun mengangguk tanda mengerti dan berniat untuk menghampiri joonmyun. Namun kasian sekali pemirsa, dengan seenaknya paramedic membawa tubuh si ‘ganteng’ yang terkapar tak berdaya itu masuk ambulan.

“ya!!!!” teriak Yeonra

“jangan teriak saja bodoh! Cepat ambil kuncinya!” sahut Heerin kesal mendapati temannya yang mulai Lola (heheh :p) karena panic

Tanpa pikir panjang lagi Yeonra pun berteriak pada Minyoung yang berada tak jauh dari ambulance.

“Ya! MinYoung-a!!! cepat ambil kunci mobil disaku Joonmyun!” teriaknya sekuat tenaga.

Mendengar teriakan yang sangat tidak enak itu, akhirnya Minyoung langsung menggerayai (bahasa apa ini?!) jaket JoonMyun dan Bang! Ketemu. Dengan segera ia langsung berlari menuju Yeonra yang sedang kalut hingga  wajahnya tak berbentuk(?).

Cklek! (jeng jeng! Akhirnya beruang ganas keluar.. *ups!)

Pintu pun terbuka, dan tanpa ‘cincong’ Heerin pun keluar dan langsung berlari kearah Joonmyun-nya tercinta.

Mendapati ia diacuhkan setelah melakukan pertolongan, Yeonra pun mengikuti Heerin dengan sedikit ngedumel tentang ocehan yang sebenarnya tak penting sama sekali.

***

Disamping hydrant air, Heerin melihat Sehun dan kai yang sedang diinterogasi oleh polisi serta Kyungsoo dengan wajah sedihnya yang teramat dalam sedang duduk tak berdaya di pinggiran hydrant. Setelah berpikir mereka tidak sebegitu penting karena hanya mendapati luka ringan. Heerin pun meneruskan langkahnya menuju ambulan yang sudah bersiap-siap memacu gas untuk pergi dari TKP. Melihat ambulan bodoh yang tak mau menunggu dirinya, Heerin pun berteriak sambil berlari mengikuti ambulan yang mulai jalan itu.

“ambulan bodoh! Berhenti kau! Jangan culik Joonmyun ku” teriak Heerin sedikit tersengal (siapakah yang bodoh sebenarnya? -,- *abaikan!)

Melihat ada seorang Yeoja cantik tapi aneh sedang mengejar ambulan. Sang sopir pun menghentikan mobilnya dan denga tiba-tiba pintu belakang mobi pun terbuka dan langsung menarik Heerin.

“hh~~ pengejaran sukses” batinnya dalam hati (sempet ae arek iki se..)

Namun dengan seketika raut wajahnya pun berubah pilu mendalam saat ia melihat kekasihnya terkapar tak berdaya penuh luka. Matanya panas dan nanar melihat Joonmyun kesayangannya berhiaskan darah.

Tes.. Air matapun kembali mengalir dari matanya.

“neo! Babo Cheorom!” ucap Heerin lirih sambil mengusap darah di ujung bibir Joonmyun yang sedikit lebam.

***

Kembali Ke TKP

“aigo~~ dasar gadis tak tau terima kasih! Sudah ditolongin bukannya mengucapkan terimakasih malah ditinggal nyelonong!” geram Yeonra sambil berjalan menuju ketiga namja bermuka melas dipinggiran Hydrant

“Yeonra-ssi.. jangan begitulah sama dia, kalau kau jadi dia mungkin kau juga akan bertingkah seperti itu juga. Menurutku Heerin-ssi mengalami masa yang berat sewaktu pemukulan itu terjadi. Yang aku tau dia bukan Yeoja yang lemah sepertiku.. bukankah dia menguasai beberapa ilmu bela diri? Pasti sangat menyakitkan jika hanya melihat teman-temannya dipukul secara beringas tanpa sempat memberi bantuan secuil pun” tutur Minyoung menenangkan Yeonra.

“Geurae…” jawab Yeonra lemas ketika melihat Sehun sedang menerawang jauh penuh kesedihan.

Setelah polisi polisi itupun selesai melakukan investigasi, mereka pun berkemas dan pergi. Kyungsoo pun berniat mengantar dongsaeng2nya pulang supaya mereka merasa lebih tenang dan baikan, namun Sehun dan Kai menolak. Mereka ingin ke rumah sakit Joonmyun dan Chanyeol dilarikan tadi. Akhirnya Kakak baik hati ini pun dengan suka rela mengantar mereka. Tak luput juga Yeonra dan Minyeong.

***

3th floor,  Room 21, Yongdong Severance Hospital…

Setelah menemukan ruangan tempat dirawatnya Joonmyun dan Chanyeol, Kai dan Sehun langsung memasuki ruang itu tanpa ragu. Mereka mendapati Joonmyun dan Chanyeol berbalut perban disana sini.

Sedangkan diluar kamar. Minyeong pun masih ragu akan masuk ataukah sebaliknya. Dia takut kalu nanti misalnya Chanyeol mendapatinya berada disini. Pasti dia akan Meneriakinya seperti biasa. Akhirnya, Minyeong pun memutuskan untuk tetap berada diluar.

“eo, minyeong-a.. kenapa malah hanya berdiri disini? Ayo masuk!” ajak Yeonra

“em.. ani.. biar aku diluar saja” jawab Minyeong

“heish.. bukankah tidak pantas jika ada seseorang yang sakit di dalam dan kau hanya berdiam diri duduk disini tanpa menjenguknya? Sudahlah! Jangan banyak pikir” tutur Yeonra yang langsung menarik Minyeong secara paksa.

“eo? Mereka belum sadar?” Tanya yeonra sesaat setelah masuk ruang itu.

“belum” jawab Heerin lesu yang masih menatap Joonmyun pilu sembari menggenggam tangan kekasihnya.

“bagaimana dengan Chanyeol?” Tanya Yeonra sekali lagi

“Entahlah… Uisa bilang, Chanyeol hanya pingsan. Untunglah tongkat baseball itu tidak membuatnya terluka parah.” ucap Heerin lirih..

“Dia ada dimana…?” Tanya Yeonra.

“Tepat di ruang sebelah.”

Setelah mendengar jawaban dari Heerin, ia pun kembali menarik lengan Minyoung dan mengajaknya melihat Chanyeol.

“Ch, Chankaman…!!” cegah Minyoung dengan wajah ragu. Yeonra segera berbalik dan mengerutkan alis bingung.

“wae…? Apa kau tidak mau melihat Chanyeol…?”

“Aaniyo… hanya saja… aku takut Chanyeol tidak akan suka melihatku.” Jawab Minyoung sedikit cemas.

“Hhh~… kau tenang saja. Chanyeol tidak sedang sadarkan diri. Jadi kau bisa puas menjenguknya. Atau kau mungkin bisa mengejeknya sepuasnya! Hahaha!!” ujar Yeonra sambil tertawa tak terkontrol. Lagi pula, Yeonra merasa bahwa pukulan yang di terima Chanyeol tadi adalah balasannya karena telah menindas Minyoung tanpa alasan jelas.

“K, keundae…”

“Sudahlah. Kkaja!” potong Yeonra yang kemudian menarik lengan Minyoung kembali.

Saat mereka hampir memasuki kamar Chanyeol. Tiba-tiba, keluarlah Sehun dan Jongin dengan muka sedikit kusut.

“Eo…? Kalian rupanya… masuklah. Tapi Chanyeol masih belum sadarkan diri.” Kata Jongin yang kemudian berlalu dari dua Yeoja di depannya. Sedangkan Sehun masih tetap di tempat, memandangi Yeonra dengan sendu.

“Ya… wajahmu…” Yeonra sedikit terkesiap saat menyadari lebam di wajah Sehun semakin bengkak dan parah. Tidak seperti tadi, saat ia mengumpat namja tersebut.

“Aw…” rintih Sehun pelan, saat Yeonra tanpa sadar memegang luka tersebut. Yeoja itu semakin mengerutkkan keningnya. Menatap Sehun penuh arti, lalu menoleh pada Minyoung.

“Minyoung-ah… apa kau bisa masuk duluan…? Aku ingin mengompres luka Sehun dulu. Ne…?” ujar Yeonra sedikit meminta.

Walau pun sedikit enggan. Tapi mau tak mau, yeoja mungil itu memasuki kamar Chanyeol dengan ragu.

Saat memasuki ruangan itu, Minyoung terkesiap melihat Chanyeol sedang terlelap di kasur dengan tubuh tak berdaya. Infus terpasang di lengannya yang berotot(?).

Perlahan… di dekatinya namja yang sering menindasnya itu. sebuah perban kecil menghiasi wajahnya yang tampan. ‘kasihan sekali.. pasti sakit..’ Batin Minyoung.

Di perhatikannya sekali lagi wajah Chanyeol. Entah kenapa, Minyoung merasa bahwa Chanyeol terlihat sangat menarik jika wajahnya tidak mengerut seperti yang di lakukannya jika membuka mata.

“pasti dia akan terlihat lebih tampan saat tersenyum…” batin Minyoung sekali lagi. membayangkan wajah Chanyeol yang tersenyum padanya dengan ramah, membuatnya menyunggingkan satu senyum manis.

“Mwo haneungoya!?”

DEG!

Seketika jantung Minyoung berhenti untuk sejenak saat mendengar suara itu. dilihatnya Chanyeol yang masih berbaring di tempatnya, memandangnya dengan pandangan membunuh. Tajam dan sinis seperti biasa.

Minyoung melangkah mundur. “A, aniya…a aku… aku hanya…”

“Apa kau kesini untuk menertawakanku, hah?!” potong Chanyeol lagi dengan tajam. ia kemudian mencoba bangun dari tidurnya, saat tiba-tiba rasa pusing menyerangnya dengan sangat mendadak.

“Aargh…” rintihnya. Saat itu juga Minyoung segera kembali mendekati Chanyeol dan membantunya untuk duduk. Tapi Chanyeol yang kasar, segera menepis tangan yeoja itu.

“Dwaesseo… aku bisa melakukannya sendiri!” ujarnya ketus.

Minyoung langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya berkaca-kaca karena merasakan penolakan yang dialaminya untuk kesekian kali. Tapi ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah.

“Kenapa kau tetap ada disini…?! Cepat keluar!” teriak Chanyeol dengan murka. Minyoung pun tanpa banyak bicara, segera berlari keluar dari ruangan Chanyeol.

Sedangkan Chanyeol, memandangi kepergian yeoja itu sambil memegangi dadanya yang terus saja berdebar tak karuan.

“Yeoja, bodoh!” ujarnya lirih.

***

“Joonmyun-ah.. Joonmyun-ah..”

Heerin masih terus terisak disamping namja yang kini sedang berbaring lemah.

 

“Gwaenchanhayo, agassi. Dia akan sembuh besok. Tidak ada pendarahan dalam.” Kata dokter menenangkan Heerin.

 

“Jeongmalyo? Hh~ Syukurlah.. Apakah dia sudah bisa pulang nanti?” tanya Heerin.

 

“Ne, keuromyo. Saya akan memberikan anti-nyeri padanya.” Jawab dokter.

***

Sementara Heerin terus mengkhawatirkan kekasihnya, Yeonra sedang berdua bersama Sehun di ruang tunggu yang sepi dekat meja resepsionis.

“Apayo?”

Tanya Yeonra lembut pada Sehun. Yeoja itu kini sedang mengompres pelipis dan bibir Sehun yang membengkak dan memar dengan warna merah kebiruan. Tampak jelas bahwa ada gumpalan darah di dalamnya.

Yeonra juga sudah menyuruh oppanya untuk mengantarkan Minyoung pulang duluan, karena tidak baik telah membawa Minyoung ikut pulang larut karena urusan mereka saat ini.

“Jogeuman..” Jawab Sehun lirih.

Yeonra terus mengompres memar Sehun perlahan. Keduanya hanya terdiam dan tidak berkata apapun. Ditambah dengan suasana ruang tunggu yang sepi, bahkan suara jarum jam malam itu pun terdengar cukup jelas.

“Biar ku belikan minuman.” Kata Yeonra yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“T, tunggu. Sendirian?” tanya Sehun dengan nada keberatan. Sebenarnya namja itu menikmati waktu berdua bersama Yeonra setelah kejadian menyakitkan hati tadi siang.

“Ne, jigeuman, wae? Aku akan segera kembali, kok.

Belum sempat Sehun mengatakan ingin menemani Yeonra, yeoja jangkung itu pun segera berlalu ke loby RS untuk membeli minuman.

 

Loby RS…

Yeonra memilih-milih beberapa minuman untuk Sehun, dirinya dan juga Heerin. Loby RS malam itu pun terlihat sepi. Hanya beberapa pasien dan suster yang sedang sibuk sendiri-sendiri. Yeonra bergidik ngeri membayangkan hal-hal aneh yang tiba-tiba terlintas di benaknya.

‘Jinjja, jangan berpikiran aneh-aneh, Yeonnie-ah.. Mereka bukan zombie! Ckckck..’ batin Yeonra berusaha menguatkan hatinya sendiri.

Yeonra telah selesai membeli minuman di vending machine dan berniat segera kembali ke ruang tunggu ketika tiba-tiba seorang namja jangkung dan bertubuh agak kurus dan wajah hangat menepuk pundaknya perlahan.

“Jung Yeonra?” Tanya namja itu dengan aksen Korea yang sedikit berbeda.

“N, ne? Nugusijyo?” Yeonra memicingkan matanya berusaha mengenali sosok didepannya yang tampak tidak begitu asing.

“Jeoneun Zhang Yixing imnida. Ingat aku?”

Yeonra memutar otaknya sejenak sebelum akhirnya tersenyum.

“Omona~ Yixing-ah. Kau shooter andalan tim basket Hannyoung, kan?”

“Ne, majayo~”

“Ne, mwohaeyo, Yixing-ah? Apakah kau sakit?”

“Aniya, aku kesini mengantar nenekku cuci darah. Sebentar lagi selesai. Kebetulan, aku juga hendak membeli minuman.” Jawab Yixing sambil terus menatap Yeonra tepat di manik matanya.

“Eo, geuraeyo~”

“Neo?”

“Eo, aku mendampingi sahabatku menjenguk temannya yang sakit saja.”

“Geuraeyo, kau pulang naik apa? Aku bisa mengantarmu pulang jika kau mau?”

Tanya Yixing dengan sangat sopan. Diam-diam Yeonra selalu merasa kagum dengan namja yang bisa menjaga nada dan cara bicaranya didepan umum terutama wanita.

“Tidak perlu. Aku sudah menyuruh oppaku untuk menjemputku. Gwaenchanhayo. Jeongmalyo. :)”

Yixing pun tersenyum lebar.

“Geuraeyo. Ehm.. Bolehkah, aku meminta nomor ponselmu?”

Tanya Yixing yang dalam hati merasa gugup, setelah sekian tahun mengenal yeoja didepannya, baru hari ini keduanya saling berbicara.

“Eum.. Keuromyo..”

Setelah menimbang-nimbang sejenak, Yeonra pun memberikan nomor ponselnya pada Yixing.

“Gamsahamnida. :)” kata Yixing dengan tatapan polos.

“Ne~ Cheonmaneyo~ :)” balas Yeonra.

“Yeonra-ya?”

Kedua orang itu segera menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Sehun. Namja itu terlihat sangat tidak nyaman dengan pemandangan didepannya.

“Eo, maaf. Aku harus segera mendampingi temanku. Kami permisi dulu, ne? Annyeong~” Yeonra membungkuk kemudian berlalu bersama Sehun.

Yixing memandangi kedua orang itu hingga mereka tidak terlihat lagi. Tidak menyadari aura tidak senang yang dipancarkan Sehun.

Ruang tunggu RS…

“Aku bisa minum sendiri.”

Sehun meraih kaleng jus jeruk dari tangan Yeonra.

Glek glek glek glek…

Namja itu meminumnya dengan cepat. Lebih tepatnya, dengan emosi.

“Pelan-pe-”

“Uhuk! Uhuk! Ugh, sial..”

Belum selesai Yeonra mengingatkan Sehun untuk meminum perlahan, namja itu sudah tersedak duluan.

“Kalau masih haus, ambil saja bagianku, ini..”

Kata Yeonra sambil menyodorkan sekaleng jus apel dingin.

Sehun hanya memandangnya sekilas lalu membuang muka.

“Tidak perlu. Kau minumlah. Kau pasti haus.” Kata Sehun datar.

“Jeongmal?”

“Ne.” Jawab Sehun singkat.

“Geurae..”

Yeonra pun dengan acuh membuka tutup kaleng jusnya dan menengguknya perlahan sambil memandangi wajah Sehun.

Cemberut. Masam. Dan datar. Tapi tidak sedatar Jongin, tentu saja.

“Masih sakit, ya?”

Yeonra meletakkan minumannya dan meraih kompres. Diusapkannya perlahan pada pelipis Sehun yang memar.

Seketika itu, Sehun merasakan perasaan nyaman yang menyelimuti dirinya. Entah mengapa emosinya tiba-tiba mereda ketika tangan Yeonra mulai mengompres lukanya lagi. Emosinya sirna seketika.

“Geu namjaga, nugundae?” tanya Sehun tiba-tiba.

“Mm? Namja yang mana?”

“Yang tadi asyik mengobrol denganmu.” Jawab Sehun dengan menekankan kata ‘asyik’. Berharap Yeonra sadar bahwa ia tidak senang.

“Eo~ Geugo Zhang Yixingimnida. Dia shooter basket andalan Hannyoung. Apa kau masih belum mengenalnya?”

Sehun menggelengkan kepalanya.

Yeonra pun acuh saja dengan sikap Sehun. Merasa tidak ada yang salah.

Tiba-tiba Heerin muncul–dari kamar pasien tepat didepan mereka–dengan wajah kusut dan disampingnya, Joonmyun tersenyum penuh kepuasan pada Sehun dan Yeonra.

“Setidaknya kita tidak terluka parah seperti geng amatiran seperti mereka..” Kata Joonmyun.

“YA! Musun soriya?! Sudah, jangan membuatku khawatir lagi. Atau aku yang akan menghajarmu.”

Kata Heerin berusaha menakut-nakuti kekasihnya itu. Joonmyun langsung menoleh dan mengecup pelan kening Heerin.

“Diamlah, babo-ku sayang. Ja, kita pulang saja. Besok jam 10 kita ada showcase. Kaja.”

***

Minyoung mematut dirinya didepan cermin besar di ruang tamu. Ia mengenakan seragam seperti biasanya. Hari itu hanya anak-anak jurusan kesenian yang mengenakan pakaian bebas rapi karena merekalah yang harus tampil untuk showcase.

“Jam berapa appamu akan datang, nak?”

Bibi Sora muncul dengan dandanan agak menor. Bukan untuk menemani Minyoung dalam pertemuan wali murid hari itu, tetapi bibi Sora memiliki jadwal untuk menjadi penata rias sebuah acara tari tradisional di Gyeongbuk-gung siang nanti.

“Eo, appa bilang, appa akan datang paling pagi. Semoga appa sudah datang pukul 9 nanti, imonim.” Jawab Minyoung.

“Omona, kau tidak pakai bedak ya?!”

Minyoung menatap dirinya sendiri di kaca. Ia memang tidak pernah memakai kosmetik apapun.

“Biar aku touch-up sedikit. Diamlah..”

Minyoung menutup wajahnya. Sementara bibinya dengan cekatan membubuhkan bedak pada wajah polos Minyoung.

“Ja, lebih baik.”

Minyoung kembali membuka matanya. Kali ini ia bisa melihat wajahnya tampak sedikit lebih putih dan tidak mengkilap seperti sebelumnya. Lumayanlah..

“Ja, ayo kita berangkat, sudah jam 8.”

***

Hannyoung High…

Seakan de javu, Minyoung melihat belasan mobil mewah mengantarkan siswa-siswi ke kawasan Hannyoung. Beberapa dari mereka mengenakan seragam lengkap dan rapi, dan beberapa juga mengenakan pakaian formal yang tampak mahal.

Tapi kali ini yang berbeda adalah, para siswa didampingi dengan orang tua mereka. Orang tua mereka tampak ‘mahal’ juga dalam setelan tuxedo yang mewah, atau ibu-ibu yang tampak glamor dengan dress cantik yang mahal.

BRUK!!

Minyoung tersadar dari lamunannya. Ia terkesiap menatap punggung seorang anak laki-laki yang ditabraknya barusan. Anak laki-laki itu membalikkan badannya. Minyoung menengadah menatap wajah anak itu. Ia sangat tinggi. Minyoung bahkan hanya setinggi dada anak itu.

“Kau lagi??!!” seru Chanyeol dengan muka masam.

TBC

“Apa ini??!! kenapa hanya segini???!! Kenapa ceritanya cuma gitu aja??!!” Hehehe… Pasti dalam pikiran kalian seperti itu deh.. tapi mau gimana lagi, pikiran kita bertiga lagi mentok. kkk dan lagi ceritanya mulai gaje ya…? :p haha… mohon di maklumi ya :p RCL kami tunggu yeorobuun~^^ bye~ annyeong^^ *bow*

Advertisements

16 thoughts on “It Has To Be You 05

  1. Ahh, akhirnya bisa juga bca part 5 nya, stelah mlewati rintangan2 yg menyesakkan #Plakabaikkann

    Ceritanya mkin bgus aj thorrr..
    Thorr, psangan minyeong&chanyeol d’prbnyak dong #smbilmohon2 😀

  2. Makin seru ajh nii critax,
    aku suka bnget ffx,suuuer dah,hehe,
    critax beda ajh sma ff yg lain,
    tp kyakx chanyeol oppa sma minyoung emng jdoh deh,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s