SeouLove -6-

Title       : SeouLove -6A-

Author    : HwangMi

Cast       :

-Nara Jung           -No Min Woo

-Boyfriend

 

µµµ

And I know that we can be so amazing
And, baby, your love is gonna change me
And now I can see every possibility
µµµ

 

Sudah berama lama ia meninggalkan kota ini? Berapa lama ia tidak berjalan berkeliling kota ini? Berapa lama ia melupakan Negara ini? Berapa lama ia tidak menghirup udara hangat ini? Berapa lama ia tidak bertemu dengan namja itu?

Yaah…pertanyaan terakhir adalah pertanyaan yang selama ini selalu ia hindari. Tentang seorang namja yang selalu menjadi alasannya untuk tetap berlatih keras dan berusaha agar bisa mendapatkan prestasi seperti saat ini. Segala yang berhubungan dengan namja itu yang dulu, setiap hari selalu ia hindari agar tidak membuatnya menyerah. Dan setiap hembusan nafasnya, setiap detak jantungnya, dan setiap langkahnya, ia selalu mengingat namja itu.

Bagaimana kabarnya saat ini?

 

µµµ

 

1 Agustus 2019

Ketika sang leader Qwee N melangkah keluar dari ruang kedatangan bandara Incheon, Korea Selatan, ratusan bahkan ribuan kilatan blitz kamera langsung menerpa wajah wanita yang tersenyum sambil melambai pada ratusan atau mungkin ribuan fans yang telah menunggu kedatangannya.

Haerin tidak sendirian. Mereka adalah Qwee N. Sebuah girlband asal Korea Selatan yang terbang ke Los Angeles beberapa bulan setelah debut pertama mereka sebagai penyanyi di Korea. Sebuah langkah besar dan berani dari lima orang wanita ini. Mereka akhirnya tidak sia-sia. Meskipun pengucapan nama girlband mereka mirip dengan band legendaris QUEEN, tapi mereka berhasil menunjukkan bahwa mereka berbeda. Jauh berbeda bahkan.

Nara Jung, the Goddes of Qwee N, keluar paling akhir dengan wajah yang tertutup hoodie, masker bergambar Winnie the Pooh, dan kacamata hitam. Tidak ada yang tidak mengenali sosok ini. Biarpun ia menutupi wajahnya dengan berbagai penyamaran, ia akan tetap dikenali sebagai main vocal Qwee N yang tentu saja banyak berperan dalam peraihan tiga piala Grammy tahun ini.

 

µµµ

 

“Yak!”

Nara menoleh pada Lio dan Ara yang meneriakinya dari jarak kurang dari sepuluh meter.

Ini Sungai Han. Dan tidak ada orang yang menghabiskan waktu tengah malamnya di tempat ini. Err…kecuali sekelompok namja yang sedang mengobrol di ujung sana itu.

“Yak! Kenapa kau pergi ke sini sendirian?!”tanya Lio sambil mencekal tangan Nara
“Kenapa kau tidak pulang-pulang?!”imbuh Ara dengan nada suara yang sangat khawatir bercampur marah
“Kau tahu jam berapa sekarang?!”tanya Lio

“Yak!”bentak Ara,”Dengarkan kami!”

Nara mendengus pelan. Ia menyentakkan tangan Lio yang mencengkeram pergelangan tangan kanannya. Nara menatap Ara dan Lio tenang. Tatapan yang selalu membuat empat onnideulnya kehilangan kata-kata saat berhadapan dengannya.

“Aku sudah mau pulang,”jawabnya pelan

“Apa saja yang kau lakukan di sini?”tanya Lio sedikit menurunkan nada bicaranya

Nara mengangkat bahu acuh lalu berbalik ingin meningalkan Ara dan Lio

Angin malam yan masih terasa hangat menerpa wajah Nara. Angin yang membawa ingatannya pada masa lalunya, lima tahun yang lalu.

Ia masih ingat, malam itu, seminggu setelah mereka berpacaran, namja itu mengajaknya ke sini. Nara membiarkan namja itu memeluknya erat. Ia membiarkan namja itu melepaskan jaketnya untuk dirinya saat ada angin seperti ini. Bedanya hanya saat itu suhu udara lebih dingin.

Nara memeluk dirinya sendiri dan tersenyum kecil dengan tatapan kosong. Ia masih bisa merasakan kehangatan itu.

Ia merindukan namja itu. Sangat-sangat merindukannya. Bahkan ia tidak mampu menyebutkan nama namja itu lagi saat ini. Ia tidak lupa nama yang terdiri dari tiga kata itu. Hanya tidak mampu menyebutkannya saja.

“Nara-a, gwenchanhayo?”tanya Ara sambil memegang bahunya

Nara memejamkan matanya beberapa saat untuk menjernihkan pikirannya. Ya. Ia baik-baik saja. Atau….hanya terlihat cukup baik?

Hey,you, over there!

Nara bisa melihat sorot ketakutan dari tatapan Ara padanya saat mendengar panggilan dalam bahasa inggris yang ditujukan pada mereka oleh sekelompok namja di ujung sana. Logat bahasa Koreanya sangat kental sangat meneriaki Nara dan teman-temannya.

Kajja! Ayo pulang!”ajak Lio

Nara memfokuskan matanya ke arah tiga orang namja yang sedang berjalan menghampiri mereka. Nara mulai merasa ada yang tidak beres, tapi kakinya seolah terpaku di tempat ini.

“Nara-a, kajja!”ujar Lio

“Mereka gerombolan pemabuk Nara-a! Ayo pergi!”imbuh Ara

Nara menggeleng kencang.

Nara,Ara,dan Lio semakin dekat dengan tiga orang yang tadi memanggil mereka. Nara mulai melihat wajah-wajah mereka satu per satu dengan jelas.

“Nara-a, apa yang kau lakukan?”desis Ara ketakutan

“Ayo pulang!”imbuh Lio

Ani…”ujar Nara dengan suara yang cukup lantang

Ketiga namja itu berdiri dengan jarak dua meter dari Nara dan teman-temannya. Nara hanya ingat ia pernah bertemu dengan namjadeul ini sebelumnya. Ia tidak mengingat nama mereka. Tapi ia yakin, ia pernah bertemu dengan mereka.

Mwoeyo?”tanya Nara

Tidak ada yang bersuara diantara tiga orang namja itu.

“Nara-a, come on! Don’t do a crazy thing!”ujar Lio

Nara membuang pandangannya dan berdecak kesal.

“Apa yang kau lakukan di sini?”tanya namja yang berdiri di tengah

“Apa urusanmu?!”bentak Nara

“Kau tahu, ini sudah lewat tengah malam. Dan beruntung sekali kalian bertemu dengan kami di sini,”

“Beruntung?”ulang Lio

Namja yang berdiri paling kanan mengangguk.

“Hanya ada kalian dan kami,”ucapnya

Tch! Lalu, kenapa kalau aku tidak bertemu dengan kalian? Apa urusan kalian? Kenapa kalian seperti sok menjadi pahlawan?!”

“Karena kau bagian dari kami,”ujar namja yang berdiri di tengah

Nara tertawa kecil, sedikit mengejek kalimat yang diucapkan namja yang berdiri di tengah ini.

“Kau hanya tidak melihat bagaimana Min Woo berusaha tetap hidup selama ini,”kata namja paling kiri

Min Woo.

Ini kali pertamanya Nara menyebut nama itu setelah bertahun-tahun hanya meyebutnya dengan ‘ia’. Nara tidak bisa berkata-kata lagi. Mulutnya seperti terkunci. Lagi-lagi ia merasa sangat sangat merindukan namja itu. Ia membutuhkan namja itu sekarang.

“Harusnya kau bisa menjaga diri. Jangan bertindak bodoh dengan berdiri sendirian di tempat ini tengah malam. Bagaimana kalau kau bertemu dengan pemabuk jalanan? Kau mungkin tidak akan hidup lagi saat ini. Apa kau tidak mencintai Min Woo?”

Nara terdiam. Lagi, saat ia mendengar nama itu disebut, ia seperti mendapat tusukan panah di jantungnya. Ia sangat sangat membutuhkan namja itu untuk tetap hidup saat ini. Namja itu adalah alasannya untuk tetap bertahan di Los Angeles dengan pengawasan ketat dari managernya. Ia ingin bertemu dengan namja itu sekarang.

“Di mana dia?”tanya Nara dengan suara serak,”Di mana Min Woo?!”

“Pulanglah,”ucap Donghyun sambil menepuk bahu Nara pelan

Nara menggeleng,”Dia di mana?!”

“Pulanglah,”perintah Donghyun sekali lagi,”Ia akan menemuimu besok,”
Nara menatap Donghyun dengan mata yang berkaca-kaca.

Geuraeyo?”tanyanya pelan. Nara tidak tahu kenapa ia merasa sangat percaya pada ucapan Donghyun. Ia akan bertemu dengan Min Woo besok pagi.

Geurae,”ujar Donghyun,”Kajja!,”

Nara membiarkan Donghyun menariknya dalam rangkulan tubuh namja itu. Ia merasa sangat tenang saat ini. Ia akan bertemu dengan Min Woo pagi ini. Itulah yang membuatnya sangat tenang.

 

µµµ

 

“Yak! Ireona!”

“Kita harus ke kantor sekarang!”

Haerin duduk di pinggiran ranjang Nara. Ia mengelus kepala adik bungsunya itu dengan lembut.

“Nara, ireona. Wake up, jjagi,”

Nara membuka matanya perlahan. Saat retina matanya menangkap bayangan cahaya matahari, ia langsung duduk.

What time is it?”tanya Nara sambil mengucek matanya

“Jam sembilan lewat dua puluh satu menit tiga puluh dua detik,”jawab Pim

Mwo?!”pekik Nara

Ia langsung berlari menuju kamar mandi meninggalkan empat onnideulnya yang terlihat heran.

“Dia kenapa?”tanya Pim pelan

Ara, yang beberapa jam yang lalu bersama Nara, mengangkat bahu. Ia tahu penyebab Nara menjadi sangat bersemangat seperti tadi.

Kajja! Tunggu Nara di luar saja,”ujar Ara

Setenga jam kemudian, tidak hanya Ara yang terpana melihat Nara yang keluar dari kamar dengan dandanan WoW –dress warna peach, higheels warna senada, rambut yang dibiarkan tergerai namun tertata, dan make up

“Kau mau ke…mana?”tanya Haerin

Nara terdiam dan menatap onnideulnya bergantian.

“Kalian bilang tadi…mau ke…kanton managemen?”

Pim mengangguk. Ia memperhatikan style ketiga temannya yang lain termasuk dirinya sendiri. Pim hanya memakai jeans selutut, kaos berwarna putih, rambut yang diikat satu ke belakang, dan beberapa aksesoris. Haerin, Ara, dan Lio tak jauh beda darinya. Mereka hanya memakai make up tipis.

“Nara-a, neomu yeppeoyo,”desis Lio

“Kita tidak akan tampil di acara music atau talk show, Nara-a,”ujar Haerin

Ara tersenyum kecil,”Kajja! Biarkan saja dia mau pakai pakaian seperti apa. Jung Ri onni bisa marah kalau kita terlambat,”

µµµ

 

“Tidak salah kan aku memakai dress seperti ini,”celetuk Nara saat Qwee N disuruh masuk ke ruangan Jung Ri yang cukup luas untuk menunggu ‘orang penting’ yang disebutkan manager mereka

Whatever!”ujar Pim acuh

“Boyfriend?”ucap Haerin yang memegang sebuah jilitan yang ia temukan di meja kerja Jung Ri,”Kita akan jadi model video klip mereka,”

Mwo?!”

Lio dan Pim menghampiri Haerin yang duduk di kursi kerja Jung Ri. Mereka bertiga membaca jilitan proposal itu.

“Mereka sudah di dalam,”

Jung Ri masuk bersama empat orang laki-laki – satu ahjussi dan tiga orang namja-.

Lio dan Pim kembali duduk di sofa di dekat Nara. Namja yang duduk di samping ahjussi yang sepertinya manager mereka itu tersenyum pada Nara. Itu Donghyun.

“Maaf membuat kalian menunggu,”ujar ahjussi itu

Gwenchanha,”jawab Lio

Please introduce yourself, girls,”perintah Jung Ri

“Lio imnida,”

“Pim imnida,”

“Ara imnida,”

“Haerin imnida. Aku leader Qwee N,”

“Na…Nara imnida,”ujar Nara

Kemudian, Donghyun berdiri dan diikuti oleh dua orang yang lain.

“Donghyun imnida. Aku leader Boyfriend,”

“Hyunseong imnida,”

“Youngmin imnida. Aku suka lagu-lagu kalian,”

Kamsahamnida,”ujar Qwee N serempak, kecuali Nara yang menatap Donghyun.

“Kwangmin dan Jungmin akan segera datang,”ujar Donghyun

“Min Woo sedang demam. Jadi tidak bisa datang ke sini,”jelas ahjussi manager

Nara menoleh pada ahjussi,”Demam?”

“Ia sudah tidak apa-apa,”jawab Donghyun mencoba menenangkan Nara yang terlihat sangat panic

Nara menggeleng pelan,”Jung Ri onni, aku ingin ke toilet dulu. Permisi,”

Seingat Nara, ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit dengan mobil untuk mencapai tampat tujuannya saat ini. Ia tidak akan membiarkan dirinya menunggu lebih lama lagi. Dan kenyataannya, Min Woo sedang sakit. Nara merasa ia harus bertemu dengan Min Woo saat ini juga.

Mobil sport putih milik Jung Ri melaju kencang menuju gedung apartemen itu. Jung Ri pernah memberitahu tentang Boyfriend beberapa bulan yang lalu saat mereka masih di Amerika. Saat itu Nara bersikap tidak peduli karena ia merasa tidak aka nada kaitannya dengan dirinya. Boyfriend adalah boyband Korea. Terdiri dari enam orang namja. Mereka tinggal di gedung apartemen yang berada lima blok dari kantor agensi Qwee N.

Nara menghentikan mobil managernya di parkiran gedung apartemen ini. Ia menerobos ratusan fans yang membawa berbagai poster, banner, dan tulisan-tulisan tidak jelas.

Nara kehilangan akal sehatnya. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya tatapan tidak percaya, aneh, dan melongo.

“Hei!”panggil Nara pada seorang petugas yang baru saja keluar dari lift

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Mm…”gumam Nara,”Kau tahu Boyfriend?Boyband…”

Petugas itu mengangguk dan memperhatikan dandanan Nara.

“Mereka tinggal di apartemen ini,”ucap petugas itu,”Listen, I’m Nara from Qwee N. And I need to meet No Min Woo from Boyfriend now. Bisakah kau mengantarku ke apartemennya sekarang?”

“Aah, Nara Qwee N?!”

Nara mengangguk

“Tentu,”ujar petugas itu

Apapun berita yang akan keluar nantinya, Nara siap. Asalkan ia bertemu dengan Min Woo hari ini.

“Apartemennya nomor 303. Jungmin-ssi dan Kwangmin-ssi baru saja meninggalkan gedung beberapa saat yang lalu. Aku rasa Minwoo-ssi masih ada di dalam,”jelas petugas itu

Kamsahamnida!”ujar Nara lalu sebae di depan petugas yang mengantarnya sampai ke lantai sepuluh gedung ini

“Sama-sama, Nara-ssi,

303.

Nara menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum menekan bel.

Apa Min Woo benar-benar di dalam? Atau Min Woo sudah keluar bersama Jungmin dan Kwangmin? Bagaimana kalau Min Woo pingsan di dalam? Atau pingsan? Apa dia baik-baik saja?

“Minwoo,”ucap Nara pelan sambil terus menekan bel

Oppa…”

Nuguseyo?”tanya sebuah suara serak dari pengeras suara

Nara memejamkan matanya. Itu suara Min Woo. Min Woo yang sedang bicara. Ia baik-baik saja.

Nuguseyo?”

Nara menarik nafasnya lagi. Ia kembali merasa tidak karuan. Antara rindu, membutuhkan, cinta, dan keinginan untuk bertemu. Ia membutuhkan namja itu.

O…Minwoo…”ucap Nara pelan

Sedetik kemudian pintu terbuka lebar. Nara berdiri terpaku di depan pintu melihat namja yang selama ini ia rindukan berdiri dengan jarak kurang dari satu meter di depannya. Namja yang terlihat pucat dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Namja yang sedang menatapnya tidak percaya.

“Na…Nara-a!”

Nara masih bergeming. Ia harusnya memeluk namja itu sekarang, bukan berdiri dengan wajah bodoh di depan pintu. Itu Min Woo. Min Woo yang selama ini membuatnya nyaris gila. Min Woo yang selalu menjadi alasan baginya untuk tetap berjuang keras.

Nara memaksakan sebuah senyum di wajahnya. Setetes airmatanya jatuh saat ia tersenyum.

Nara menghambur ke pelukan Min Woo dan membuat namja itu terhuyun jatuh ke belakang. Siapapun yang melihat mereka dengan posisi Nara di atas Min Woo pasti bisa salah pengertian.

Nara merasakan Min Woo membalas pelukannya.

“Na…Nara-a,”ucap Min Woo

Nara membiarkan panas tubuh Min Woo mengalir ke tubuhnya. Ia membiarkan Min Woo membelai rambutnya lembut tanpa suara. Hanya suara detak jantung masing-masing yang saling mereka rasakan.

Nara memberanikan diri menatap Min Woo yang tersenyum padanya.

“Bisakah kau berdiri sekarang?”desis Min Woo sambil tersenyum

Nara berguling ke samping, lalu duduk. Min Woo ikut duduk.

Neomu yeppeoyo,”ujar Min Woo lalu berdiri untuk menutup pintu,”Siapa yang memberitahumu aku di sini?”

Ahjussi yang datang bersama Donghyun oppa,”

Min Woo menarik Nara duduk di sofa. Min Woo berbaring di sofa dan membiarkan Nara memainkan rambutnya.

“Sejak kapan kau sakit?”tanya Nara

“Sejak kemarin lusa,”jawab Min Woo,”Mianhae, aku tidak ke bandara saat kau datang,”

Nara tersenyum,”Gwenchanha. Geokjeongdwaeyo,”

Min Woo tertawa kecil,”Aku ingin tidur,”

“Tidurlah. I’ll stay here,”

Jinjja?”

Nara mengangguk

“Tapi…”

“Apa?”
“Boleh aku minta sesuatu?”

“Apa?”
“Aku ingin makan ddokbokki,”

Nara tersenyum,”Araseo. Lebih baik kau tidur di kamarmu,”

Min Woo mengangguk lalu kembali ke kamarnya.

Jjagiya…”

Mwo?”tanya Nara

Kajima,

             Aku akan memasak. Tidurlah,”

 

µµµ

sori udah lama ga ngepost yaa admin and readers ^o^ baru dibeliin pulsa modem soalnya 😀 so so so….komen yaaah ^o^ tengKYUUUUU readerdeul!!!

Advertisements

5 thoughts on “SeouLove -6-

  1. ah….so sweet, tpi ptengahan alurx tlalu cpt thor, jdi agk krg gtu dh..hehe
    tpi bgs ko thor, ayo d tunggu lanjutan critax 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s